Rahmah

Kisah Abu Mihjan dan Jihad serta Janjinya untuk Meninggalkan Khamr

Semangat Abu Mihjan dalam berjihad membuat dirinya tidak ingin meminum khamar untuk selama-lamanya.


Kisah Abu Mihjan dan Jihad serta Janjinya untuk Meninggalkan Khamr
Ilustrasi Sahabat Nabi (Republika)

AKURAT.CO  Diketahui, pada suatu hari ada seorang lelaki bernama Abu Mihjan tertangkap basah sedang meminum arak. Sehingga ia dikenai hukuman dera rotan oleh Sa'd bin Abi Waqqash yang adalah pemimpin pasukan. 

Ternyata perbuatan tak terpujinya itu, ia lakukan secara berulang-ulang. Akhirnya, Sa'd memutuskannya untuk mengikat dan memenjarakan Abu Mihjan. Atas hukuman itu, dirinya juga ditinggalkan ketika pasukan Muslim berangkat menuju Perang Qadisiyah. 

Di dalam kesendiriannya itu, Abu Mihjan seolah-olah melihat pasukan Muslim sedang terdesak oleh pasukan musyrikin. Dirinya segera menulis surat kepada istri Sa'd yang berisikan mengenai ketika ia dibebaskan, kemudian diberikan seekor kuda dan senjata, ia akan bertempur bersama pasukan Muslimin.

Dalam surat tersebut, ia juga berjanji untuk menjadi orang pertama yang kembali untuk diikat dan dipenjara seperti awalnya, kecuali jika ia terbunuh di medan perang. Dengan begitu, tidak ada orang yang mengetahui kalau ia dibebaskan.

Akhirnya surat tersebut ternyata ditanggapi dengan baik. Kemudian  istri Sa'd membawakan kuda Abu Mihjan sendiri yang belang-belang berikut dengan senjatanya susuai dengan apa yang ia inginkan.

Setelah mendapat kuda dan senjata itu, Abu Mihjan segera memacu kudanya ke tempat pertempuran. Ia langsung turun melawan pasukan kaum musyrikin. Diketahui, saat itu posisi kaum Muslimin memang sedang terdesak. 

Ternyata dengan pertolongan Allah SWT, kehadiran Abu Mihjan telah membuka pintu kemenangan bagi pasukan Muslim. Tidak ada satu kelompok musuh yang diserang oleh Abu Mihjan, kecuali hanya Allah SWT yang memporak-porandakan.

Waktu itu, ketika pasukan Muslimin melihat aksi Abu Mihjan, mereka tidak mengetahui kalau dia adalah Abu Mihjan. Salah satu pasukan Muslim berkata, "Lelaki itu bagaikan seorang malaikat…!"

Begitu juga dengan Sa'd bin Abi Waqqash yang sempat berkata, "Ketangkasan dan lompatan kuda belang, serta sepak terjangnya itu adalah milik Abu Mihjan, tetapi bukannya Abu Mihjan sedang terikat kedua kakinya…"

Pada saat posisi telah berbalik menjadi kemenangan bagi kaum muslimin, Abu Mihjan segera berbalik pulang. Sesuai janjinya, ia mengembalikan kuda dan senjata tersebut kepada istri Sa'd dan kembali ke penjara. Bahkan dirinya mengikat sendiri kedua kakinya itu.

Setelah pertempuran pertemuan berakhir, dan pasukan Muslim telah kembali ke markasnya, istri Sa'd bertanya tentang pertempuran tersebut kepada suaminya. Sa'd berkata, "Kami terus bertempur dan hampir terjepit oleh serangan musuh yang bertubi-tubi, sampai Allah menghantar seorang lelaki yang menunggang kuda belang-belang (serta memporak-porandakan musuh). Kalau saja aku tidak meninggalkan Abu Mihjan dalam keadaan terikat, tentu aku menyangka itu dirinya karena ia memiliki beberapa sifat Abu Mihjan."

"Demi Allah, sesungguhnya itu memang Abu Mihjan," kata istri Sa'd.

Sa'd pun menceritakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Sa'd lalu menyahut, "Demi Allah, aku tidak menemui seorang lelaki (seperti itu) pada hari ini, yang membantu kaum muslimin dalam keadaan Allah tengah menguji mereka seperti pada hari Qadisiah tersebut…!"

Karena hal itu, ia memerintahkan untuk membebaskan Abu Mihjan. Setelah dibawa kehadapannya, Sa'd berkata, "Kami tidak akan pernah merotan/menghukum engkau lagi karena minum arak selama-lamanya."

"Aku telah minum arak, dan jika hukuman telah ditetapkan untukku, aku akan membersihkan diri darinya. Dan karena engkau membebaskan aku, maka aku tidak akan pernah meminumnya lagi selama-lamanya," kata Abu Mihjan. Subhanallah []