Rahmah

Kisah Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Putra Pemimpin Munafik yang Sangat Mencintai Rasulullah SAW

Abdullah bin Abdullah bin Ubay merupakan putra dari tokoh munafik Abdullah bin Ubay.


Kisah Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Putra Pemimpin Munafik yang Sangat Mencintai Rasulullah SAW
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Abdullah bin Ubay mempunyai seorang putra bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Kala itu, Abdullah bin Ubay hampir diangkat sebagai raja Madinah sebelum kedatangan Rasulullah SAW, namun gagal karena kebanyakan penduduk memeluk Islam.  

Selain itu, para penduduk juga menjadikan Nabi SAW sebagai tokoh sentral mereka. Karena sebab itulah, Abdullah bin Ubay menaruh rasa benci terhadap Nabi SAW.

Pada saat Rasulullah SAW mendengar pimpinan Banu Musthaliq Al Harits bin Abu Dhirar yang menghimpun pasukan untuk memerangi kaum muslimin, Rasulullah SAW menyusun pasukan dan segera berangkat ke tempat Banu Musthaliq tersebut. Dalam pasukan yang dipimpin sendiri oleh Nabi SAW ini, terdapat juga sekelompok kaum munafik, termasuk pimpinan mereka, Abdullah bin Ubay.

Setelah pertempuran selesai, dan dalam perjalanan kembali menuju Madinah, Abdullah bin Ubay berkata pada kelompoknya.

"Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang terhormat akan mengusir orang-orang yang terhina,"

Perkataan 'terhina' ini ditujukan kepada Nabi SAW dan sahabat Muhajirin yang terusir dari Makkah. Kemudian setelah kabar ini sampai kepada Nabi SAW melalui sahabat Zaid bin Arqam, Umar bin Khattab meminta Rasulullah SAW menyuruh Abbad bin Bisyr untuk membunuh tokoh munafik tersebut. 

Namun Abdullah bin Ubay mengingkari jika dirinya mengatakan itu. Hal tersebut tentu membuat suasana menjadi tegang dan penuh prasangka. Hingga akhirnya turun ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam.

Karena situasi itulah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Nabi SAW dan berkata, 

"Ya Rasulullah, jika engkau menginginkan ayahku dibunuh, perintahkanlah aku untuk membunuhnya! Karena kalau orang lain yang engkau perintahkan membunuh, aku khawatir aku tidak bisa bersabar untuk tidak menuntut balas atas kematiannya, yang karenanya aku akan masuk neraka. Semua orang Anshar tahu, aku adalah orang yang berbakti pada orang tuaku,".

"Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan," kata Rasulullah SAW

Abdullah mengetahui bahwa Rasulullah SAW akan memaafkan ayahnya. Meskipun begitu, sebagai wujud kecintaan yang lebih besar kepada Allah SWT dan Rasul-Nya daripada orang tuanya, Abdullah menghadang dengan pedang terhunus, dan melarang ayahnya untuk memasuki Kota Madinah, kecuali jika Rasulullah SAW memberinya izin.

Dan ketika sang ayah mencoba memaksa, Abdullah menyerangnya dengan pedangnya itu, hingga ia mundur kembali. Dengan keadaan terdesak dan terpaksa ia mengirim utusan untuk meminta izin Rasulullah SAW bagi tokoh munafik tersebut untuk memasuki Kota Madinah.

Karena bagaimanapun juga, Abdullah adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya. Hal itu telah lama terbentuk sebelum Islam memasuki Kota Madinah. Sebab, Anak tetaplah anak, dan ketika ayahnya tersebut meninggal, kesedihan merasuki hatinya. 

Abdullah menyadari bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka, namun demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya. Ia menghadap Rasulullah SAW dan meminta baju gamis beliau untuk mengkafani jenazahnya. Rasulullah SAW lalu mengabulkannya. 

Kemudian, untuk kedua kalinya, ia datang kepada Rasulullah SAW untuk menyalatkan jenazahnya, dan Rasulullah SAW mengabulkannya, meskipun Umar sempat memprotes keras. Namun setelah itu, turun ayat 84 dari surat at Taubah, yang melarang beliau untuk menyalati jenazah orang munafik dan berdiri di atas kuburan orang tersebut. Wallahu A'lam Bishawab. []