News

Kinerja 100 Hari, Kapolri Disebut Sukses Lakukan Perubahan Fundamental di Tubuh Polri

Kinerja 100 hari kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diapresiasi ahli pidana dari Universitas Dwipayana, Firman Wijaya.


Kinerja 100 Hari, Kapolri Disebut Sukses Lakukan Perubahan Fundamental di Tubuh Polri
Kuasa hukum Setya Novanto, Firman Wijaya saat memberikan keterangan persnya di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (20/12) (AKURAT.CO/Bayu Primanda)

AKURAT.CO, Kinerja 100 hari kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diapresiasi ahli pidana dari Universitas Dwipayana, Firman Wijaya. Mantan Kabareskrim itu disebut sukses membuat perubahan fundamental dalam tubuh Polri.

Transformasi Polri menuju prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan (PRESISI) telah membentuk berbagai program terobosan yang mengarah pada polisi sebagai aparatur penegak hukum di masa depan. 

"Perubahan fundamental paling terlihat adalah bergesernya penilaian kinerja dari basis statistik menjadi basis dampak terhadap masyarakat," katanya dalam keterangannya, Senin (10/5/2021). 

Bergesernya orientasi kerja Polri, kata dia, turut menyumbang budaya tertib hukum di masyarakat. Sehinga hukum dapat hidup sebagai norma aturan dalam membangun ketertiban sosial. 

"Dengan upaya-upaya dasar yang dibentuk ini, kedepannya cara pandang bangsa terhadap institusi kepolisian akan terus berkembang sesuai konteks zaman," katanya. 

Dia mencontohkan, kejahatan sebagai sebuah fenomena sosial terus berkembang sesuai perubahan masyarakat. Karena itu, perangkat hukum dan polisi sebagai penegak hukum harus beradaptasi agar hukum selalu melingkupi semangat zaman. "Saya melihat misalnya, penguatan Polri dalam bidang siber telah membuka perspektif baru tentang penegakkan hukum atau gakkum. Dan ini masih merupakan proses pencarian format yang belum selesai,” jelas penulis buku 'Whistle Blower Dan Justice Collaborator Dalam Perspektif Hukum’ itu. 

Dia menambahkan, terobosan paling seksi dan mengemuka dalam program Kapolri Listyo Sigit juga berupa penerapan keadilan restoratif atau restorative justice. Upaya ini, kata dia, diterapkan dalam delik Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengedepankan proses dialog dan mediasi antara korban dan pelaku. 

“Upaya ini mengetengahkan delik aduan. Yang mana, hanya korban yang boleh membuat laporan kepolisian pada kasus ujaran kebencian, hoaks maupun penghasutan SARA di dunia maya,” jelasnya. 

Dia bahkan yakin setelah ada penerapan keadilan restoratif, angka kejahatan ujaran kebencian pasti menurun.[]

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co