News

Kicak, Jajanan Manis Khas Yogyakarta yang Cuma Eksis di Kala Ramadan

Kicak merupakan jajanan manis khas Kota Gudeg. Terbilang unik, lantaran kuliner ini hanya ada selama bulan Ramadan dan jarang sekali terlihat setelahnya.


Kicak, Jajanan Manis Khas Yogyakarta yang Cuma Eksis di Kala Ramadan
Titik Heriyanti saat membuat jajanan kicak untuk dijual, Ngupasan, Gondomanan. (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Bulan Ramadan selalu memiliki pesonanya sendiri di Kota Yogyakarta. Berbagai tradisi unik bermunculan, termasuk salah satunya pembuatan kicak.

Kicak merupakan jajanan manis khas Kota Gudeg. Terbilang unik, lantaran kuliner ini hanya ada selama bulan Ramadan dan jarang sekali terlihat setelahnya.

Makanan berbahan dasar beras ketan yang ditumbuk dan dicampuri gula, kelapa parut, potongan nangka, serta daun pandan itu mudah didapat salah satunya di Pasar Tiban Kauman, Ngupasan, Gondomanan.

Sementara Pasar Tiban Kauman ditiadakan karena pandemi COVID-19, kicak bisa dibeli dari penjaja makanan seputaran Kauman atau kawasan lainnya.

Kicak sendiri diklaim sudah ada semenjak beberapa dekade lalu. Adalah Sujilah alias Mbah Wono, warga asli Kampung Kauman yang memelopori produksi kicak ini.

"Kurang tahu kicak ini awalnya bagaimana, ibu yang tahu. Beliau (jualan) sejak saya masih SD atau sekitar tahun 70," kata Retno Budiwati (61), putri ketiga sekaligus penerus usaha pembuatan kicak Mbah Wono, beberapa waktu lalu.

Retno juga kurang paham mengapa kicak hanya laris manis dan eksis selama Ramadan saja. Tapi, perkiraannya jajanan ini ada kaitannya dengan hidangan pada tradisi Keraton Yogyakarta.

"Katanya kicak, carang gesing itu kan khasnya keraton, apem juga," imbuh 

Mbah Wono memang sudah lama wafat. Retno tak memiliki kesempatan menanyakan banyak hal semasa hidup atau selama ia membantu berjualan sejak 2006 lalu.

Sementara kicak buatan Retno biasa dipesan untuk dijual lagi oleh para penjaja jajanan pasar. Dipasarkan bukan cuma semasa bulan puasa saja.

"Tapi ya beda-beda. Kan ada yang model titip-titipan (jual) pakai mika. Kalau sini pakai bungkusan daun pisang, dulu kan memang adanya daun, belum ada mika," imbuh dia.

Titik Heriyanti, merupakan salah seorang warga Kauman penjaja kicak yang mengaku terinspirasi dari jajanan buatan Mbah Wono. Dia menjajakan kicak di rumahnya, Jalan Kauman No 43.

"Awalnya beli di sana (Mbah Wono), terus saya coba-coba buat dengan teman saya, akhirnya sampai sekarang buatnya," ungkap dia.

 AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Sudah sepuluh tahun belakangan Titik membuat dan menjajakan kicak di kala Ramadan. Dia menyebut permintaan memang lebih banyak selama bulan puasa ketimbang hari-hari biasa.

"Ya sudah ciri khasnya, kalau nggak puasa ya nggak ada yang nyari. Tapi sebelum puasa kalau ada yang pesan baru dibuatkan," ujarnya.

Selama satu dasawarsa itu pula Titik mematangkan teknik membuat kicak yang dipelajarinya secara autodidak. Dikatakannya, hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menyiapkan 30 porsi atau bungkus kicak.

"Kalau saya biasanya bikinnya jam sebelas (siang)," sebutnya.

Mulanya, air dimasak dengan gula dan sedikit garam di atas wajan menggunakan api kecil. Kala air mulai mendidih, parutan kelapa dimasukan kemudian diaduk bersama ketan setelahnya.

Mengolah kicak harus menggunakan api kecil supaya kelapa bisa masak dengan tanak. Nangka dimasukkan terakhir saat menjelang matang agar aromanya tidak hilang karena terlalu lama dimasak.

"Kalau sudah matang jangan langsung dibungkus, nanti cepat basi karena masih panas. Kalau dibungkus keluar uap airnya," jelas Titik.

Kicak yang sudah didinginkan lalu dibungkus dengan daun pisang. Agar lebih sedap saat dimakan dan awet ketika disimpan.

Satu bungkus kicak versi Titik berisikan tiga potong jadah dan satu potong nangka. "Itu kalau dibungkus pakai plastik mika kurang enak rasanya," sambung Titik. 

Sepenuturan Titik, 30 bungkus kicak bisa laku semua tiap harinya. Di mana untuk per bungkusnya ia jual seharga Rp4 ribu.

"Jualan jam tiga (sore), biasanya habis jam limaan," tuturnya.

Penjualan kicak Tatik sempat merosot tajam kala awal masa pandemi COVID-19 tahun lalu. Namun kini berangsur bangkit meski dirinya masih harus berhadapan dengan kendala kelangkaan nangka.

"Tahun kemarin itu nangka harganya mahal, tapi masih bisa didapat. Sekarang buah nangkanya sulit sekali didapat," pungkasnya.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu