Ekonomi

Kiat Sukses Ala Lo Kheng Hong, Warren Buffett-nya Indonesia


Kiat Sukses Ala Lo Kheng Hong, Warren Buffett-nya Indonesia
Lo Kheng Hong atau yang biasa dipanggil LKH merupakan salah satu Investor terkenal, atau biasa disebit Warren Buffet asal Indonesia ()

AKURAT.CO Memiliki pendidikan yang tinggi dan keturunan orang kaya bukan berarti ia sukses dalam keuangan. Secara akuntansi, kekayaan bersih seseorang merupakan selisih total aset dari total kewajiban, sehingga kemampuan untuk terus meningkatkan nilai aset merupakan faktor penting dalam pengelolaan keuangan.

Cara meningkatkan aset, menurut aturan tradisional, Anda harus bekerja dan menabung. Namun, dengan mempertimbangkan gejolak perekonomian sekarang seperti perang dagang membuat menabung adalah hal yang mengerikan.

Hal ini karena jumlah tabungan dapat tergerus, jika gejolak perekonomian makin menjadi dan berdampak pada inflasi yang tinggi dan tidak terkendali. Inflasi yang tinggi itu membuat harga barang semakin mahal terus- menerus dan menurunkan nilai mata uang negara.

baca juga:

Untuk itu, agar sukses dalam pengelolaan keuangan, Anda perlu berinvestasi. Lo Kheng Hong dapat menjadi inspirasi Anda.

Lo Kheng Hong atau biasa dikenal rajanya investor Indonesia atau Warren Buffettnya Indonesia telah sukses dalam berinvetasi, khususnya dalam saham.

Ia berpendapat bahwa menjadi seorang investor saham itu bisa membuat kaya, meskipun dia tidur saja. Karena dia punya perusahaan publik yang harga sahamnya selalu meningkat dan menghasilkan laba besar. 

Pada 2012, ia memiliki aset berupa saham bernilai Rp2,5 triliun. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, media-media kompak menaikkan berita dengan tema “rekomendasi Lo Kheng Hong”. Dia sudah seperti sifu di dunia investasi saham.

Profil Lo Kheng Hong

Raja investasi Indonesia ini Lo Kheng Hong lahir di Jakarta, 20 Februari 1959. Ia berasal dari keluarga tidak mampu yang tinggal di rumah petak berukuran 4×10 meter saja. 

Setelah lulus SMA, Lo Kheng Hong tidak langsung kuliah karena kesulitan ekonomi. Pria kelahiran 20 Februari 1959 itu bekerja sebagai staf Tata Usaha di Overseas Express Bank (OEB). Ketika masuk usia 20 tahun, Lo Kheng Hong kuliah di Universitas Nasional mengambil jurusan Sastra Inggris. Ia mengambil kelas malam.

Sifu Lo mulai intensif belajar investasi saham di usia 30an. Saham pertama yang dibeli adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance Tbk. Lo Kheng Hong membelinya saat penawaran saham perdana (IPO/Initial Public Offering) pada 1989.

Kesuksesan investasi saham berawal dari kegagalan. Ketika itu, saham Gajah Surya Multi Finance anjlok dan dia terpaksa menjual lebih rendah di bawah harga beli. Kegagalan ini membuatnya semakin rajin belajar membaca arah pasar modal, termasuk saham-saham emiten mana yang memiliki prospek cerah.

Pada 1996, Lo Kheng Hong memutuskan untuk berhenti bekerja untuk fokus di dunia investasi saham. Status karyawan terakhirnya adalah Kepala Cabang Bank Ekonomi.

Kekayaan Lo Kheng Hong mulai melonjak sejak ia berinvestasi saham di MBAI, PNLF, dan RIGS. MBAI adalah kode emiten PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, sebuah perusahaan ternak ayam kedua terbesar di Indonesia. Dia aembeli saham MBAI senilai Rp250 per lembar pada 2005. Dia menjualnya kembali dengan harga Rp31.500 per lembar saham pada 2011. Artinya, dari seluruh investasi saham di MBAI (8,28% dari total seluruh saham MBAI di pasaran), Sifu Lo mengantongi keuntungan 12.500% atau melonjak 126 kali lipat.

Sementara itu, kode PNLF merujuk kepada PT Panin Financial Tbk yang dibeli saat masih dibanderol Rp100 per lembar. Dia membeli sebanyak 850 juta lembar atau setara dengan Rp85 miliar.

Setelah 1,5 tahun, saham tersebut dijual 2,6 kali lipat dari harga awal. Keuntungannya 160% dengan harga Rp260 per lembar. Total penjualannya Rp221 miliar. Keuntungan yang didapat mencapai Rp136 miliar.

Saham ketiga, RIGS, adalah kode emiten dari PT Rig Tenders Indonesia Tbk, sebuah perusahan pelayaran. Dia membeli saham PT Rig Tenders dengan harga Rp800 per lembar lalu dijual senilai Rp1.350.

Prinsip Lo Kheng Hong

Lima prinsip yang selalu beliau terapkan dalam berinvestasi :

1. Lihat manajemennya

Apakah dikelola oleh orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan dikagumi.

2. Perhatikan usahanya

Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.

3. Cari perusahaan yang labanya besar

Hitung berapa besar profit marginnya dan return on equity (ROE) yang merupakan tingkat pengembalian modal: rasio laba bersih terhadap total modal.

4. Pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.

5. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis.[]