Tech

Kiat Jaga Keamanan Data Pribadi Ala VIDA

Kiat Jaga Keamanan Data Pribadi Ala VIDA
Ilustrasi - Kiat menjaga keamanan data pribadi. (pixabay.com/thedigitalartist)

AKURAT.CO, CEO dan Co-Founder VIDA, Sati Rasuanto membagikan kiat untuk menjaga keamanan data pribadi bagi pengguna dan platform digital.

"Langkah pertama untuk melindungi diri bagi para platform digital dari cyber fraud adalah bagaimana kita membangun proses verifikasi trust di awal sebagai pintu masuk," kata Sati melalui keterangan tertulis yang diterima Akurat.co.

Bagi pengguna, Sati menekankan pentingnya untuk tidak menyebarkan data pribadi dengan mudah pada pihak luar, seperti KTP, selfie sama KTP, foto paspor, foto boarding pass, nomor rekening, nomor kartu kredit apalagi nama ibu kandung, termasuk fotokopi berbagai dokumen tersebut.

baca juga:

"Hal-hal tersebut sebenarnya mudah untuk diingat. Terus pastinya jangan memberi kode OTP (One-Time-Password) dan jangan asal klik link yang menjanjikan hadiah juga, biasanya kalau online, itu bohong," ujar Sati.

Studi dari Digital Frontier menunjukkan lebih dari 78% Southeast Asian Consumer mendefinisikan diri mereka sebagai digital explorer.

Dimana mereka selalu ingin mencoba layanan baru yang bersifat digital experience.

Di sisi lain, kerugian dari fraud untuk transaksi online di Asia Tenggara pada 2019 mencapai USD 260 juta atau sekitar 3,6 triliun Rupiah, dan 71%-nya berasal dari identity fraud. 

Menurut Sati, di sinilah urgensi hadirnya proses verifikasi identitas secara online atau electronic Know-Your-Customer (e-KYC).

Terlebih pada era yang serba digital, belum tentu semua orang dapat meluangkan waktu untuk hadir secara fisik di kantor cabang dan menunggu dalam waktu yang lama.

Pada umumnya, proses identifikasi secara tradisional menggunakan email, nomor telepon ataupun username dan password.

Namun, identitas tersebut dapat menimbulkan permasalahan karena bersifat tidak unik. 

Untuk itu, VIDA melakukan verifikasi identitas berdasarkan identitas yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Dalam hal ini berarti e-KTP sebagai basis verifikasi yang kuat untuk memastikan kebenaran pemilik data. 

"Selanjutnya proses verifikasi itu umumnya kini melalui proses selfie atau pengambilan foto KTP, atau selfie sama KTP. Yang berbeda, VIDA menggunakan teknologi liveness detection dimana teknologi tersebut memastikan bahwa yang diverifikasi itu benar saya, bukan orang yang memegang foto saya atau memakai topengnya saya dan lain lain," jelas Sati.

Sati melanjutkan, dalam menciptakan rasa percaya dalam proses verifikasi, terdapat standar untuk proses keamanan data sehingga semua proses tersebut harus dilakukan sesuai standar dan regulasi yang ada, bahkan lebih dari itu (beyond compliance).

Ketika keseluruhan proses tersebut sudah terpercaya dan dilengkapi dengan enkripsi end to end, maka hal ini meyakinkan siapapun yang masuk dalam platform tersebut. Sesuai UU ITE, tanda tangan elektronik (TTE) tersertifikasi  memiliki kekuatan pembuktian yang lebih tinggi di hukum Indonesia, dan hanya dapat disediakan oleh Penyedia Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Sati juga mengatakan, digital trust semakin fundamental terhadap perkembangan ekonomi digital. Di mana semakin orang percaya, maka orang akan lebih sering melakukan transaksi dengan lebih besar.

Oleh karena itu, kolaborasi semua pihak seperti swasta, PSrE, dan juga pemerintah dalam membangun ekosistem sangat dibutuhkan, mengingat apabila trust itu terganggu maka kemajuan Indonesia dalam digital economy dapat terhambat. 

"Semakin kita berkolaborasi dengan partner dan bisnis lain untuk dapat hadapi tantangan itu bersama dan tidak sendirian, keuntungan berkolaborasi itu dapat berlipat ganda," pungkas Sati.