News

Kiai Sepuh Jombang Minta Polisi Tak Tangkap Anaknya yang Jadi Tersangka Pencabulan

Dugaan kasus pencabulan telah dilaporkan aktivis perempuan sejak akhir tahun 2019 ke Polres Jombang.


Kiai Sepuh Jombang Minta Polisi Tak Tangkap Anaknya yang Jadi Tersangka Pencabulan
Ilustrasi pencabulan (Pixabay)

AKURAT.CO, MM, ayah DPO pencabulan berinisial MSAT (46) yang juga merupakan seorang kiai di Jombang, Jawa Timur meminta agar polisi tidak menangkap anaknya.

Dalam video yang beredar, tampak sang kiai yang sudah berusia lanjut duduk di kursi hitam, sementara Kapolres Jombang duduk di lantai. 

"Demi untuk keselamatan kita bersama, demi untuk kejayaan Indonesia Raya. Masalah ini masalah keluarga. Untuk keselamatan kita bersama, untuk kebaikan kita bersama, untuk kejayaan Indonesia Raya, masalah fitnah ini fitnah ini masalah keluarga, masalah keluarga," ungkap MM, dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @wargajombang dikutip, Rabu (6/7/2022).

baca juga:

"Untuk itu, kembalilah ke tempat masing-masing, jangan memaksan diri, mengambil anak saya yang kena fitnah ini, semua itu adalah fitnah, Allahuakbar cukup itu saja," sambungnya.

Untuk diketahui, anak kiai Jombang itu menjadi buronan atas kasus dugaan pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren Sadiqiyah.

Dugaan kasus pencabulan itu telah dilaporkan oleh aktivis perempuan sejak akhir tahun 2019 silam ke Polres Jombang.

Tersangka MSA sebetulnya telah ditetapkan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buronan.

Berdasarkan SPDP, MSA ditetapkan sebagai tersangka dugaan pencabulan santriwati dan dijerat Pasal 285 atau Pasal 294 ayat 1 dan 2 ke 2e KUHP.

Namun, Polres Jombang merasa kesulitan untuk mengungkapnya. Oleh karena itu, kasus pencabulan ini dilimpahkan ke Polda Jawa Timur.

Tim gabungan dari Polda Jatim dan Polres Jombang pun telah melakukan upaya jemput paksa terhadap MSA. Tim gabungan mengerahkan ratusan personel bersenjata lengkap untuk menangkap MSA yang diduga sembunyi di dalam pondok pesantren.

Namun, upaya itu gagal lantaran dihalangi oleh sejumlah santri. Upaya penangkapan terhadap MSA sempat diwarnai aksi kejar-kejaran di jalan raya.

Ada tiga mobil yang dikejar polisi, namun polisi kembali gagal menangkap MSA yang keburu kabur dengan mengendarai mobil. MSA diduga masuk ke dalam pondok pesantren milik orang tuanya. Polisi hanya berhasil menangkap satu mobil yang berisi dua orang pendukung MSA.