News

Kiai M. Jadul Maula Singgung Soal Hukum Rokok dari Masa ke Masa

Para Raja Mataram Islam sangat lekat dengan citra perokok.


Kiai M. Jadul Maula Singgung Soal Hukum Rokok dari Masa ke Masa
Seminar nasional 'Konspirasi Global Penghancuran Kretek Indonesia' di Ruang Technoclass Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (31/5/2021). (AKURAT/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Rokok memiliki sejarah panjang sebelum menjadi komoditas bisnis menggiurkan bagi masyarakat Tanah Air maupun asing. Demikian pula polemik hukum merokok yang diperkirakan telah mencuat sejak abad ke-16.

Budayawan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, KH. M. Jadul Maula, berkisah ketika rokok pertama kali ditemukan Bangsa Eropa saat penjelajah Spanyol mulai menapakkan kakinya di Benua Amerika. Mereka menyaksikan bagaimana tanaman tembakau dikunyah, serta asap pembakarannya dipakai untuk ritual pengobatan oleh suku asli Indian.

Sejak dibawa sebagai cendera mata ke negeri asal sang penjelajah, rokok menjadi salah satu gaya hidup yang dinikmati kalangan elite, pejabat, hingga kerajaan. "Lalu memancing reaksi dari kalangan gereja, birokrat, muncul polemik hebat," kata Jadul dalam seminar nasional Konspirasi Global Penghancuran Kretek Indonesia di ruang Technopark, Fakultas Sya’riah dan Hukum UIN Yogyakarta, Senin (31/5/2021).

Masih dari Benua Biru, tepatnya Turki, rokok di dunia Islam awal mulanya mendapat pertentangan saat era Sultan Murad IV sekitar tahun 1.600. Dan di periode ini pula rokok, menurut catatan sejarah, sudah dikenal sebagai tradisi di Nusantara, khususnya Pulau Jawa.

Masyarakat Indonesia disebut telah mengenal kretek sejak Kerajaan Jawa pada abad ke-17. Catatan soal rokok racikan tembakau dan cengkih  termuat dalam cerita rakyat Roro Mendut pada Babad Tanah Jawi.

"Problematisasi hukum rokok muncul kalau kita lihat munculnya di Eropa, itu jelas faktor politik dam industri. Bukan hukum konsumsi tembakau. Walapun pada kalangan agama yang puritan itu bisa menimbulkan sikap antipati. Tapi, pemicu halal haram itu didahului munculnya konsumsi rokok untuk gaya hidup dan industri, terkait politik dagang," paparnya.

Namun, kata Jadul, persoalan sejenis tak mengemuka di Indonesia. Orang merokok masih leluasa dan berbuah tren. Tercatat oleh Belanda bagaimana Sultan Agung ketika menjamu tamunya selalu menghisap tembakau tanpa henti. Begitu halnya dengan Sunan Amangkurat I. Para Raja Mataram Islam sangat lekat dengan citra perokok.

Ulama Indonesia Syeikh Ihsan Jampes mulai menuangkan buah pikirannya tentang hukum merokok akhir abad 19. Lewat kitabnya yang berjudul  Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan atau Petunjuk Tentang Minum Kopi dan Merokok. Terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan.

Isi kitab Syeikh Jampes, lebih mengulik kehidupan para ulama di Timur Tengah. Intinya, saat itu halal-haram rokok masih ditimbang.

"Perbedaan pendapat terjadi karena ini praktik baru, tidak ada di zaman nabi. Bahkan nama tumbuhannya tembakau dalam Bahasa Arab tak ada kosakata yang asli, tapi serapan Portugis," urainya.

Hingga pada suatu masa melalui Forum Bahtsul Masail menyatakan bahwa rokok bersifat mubah dan makruh, tergantung situasinya. Namun tetap lebih menimbang daripada konteks kegiatan di luar merokok itu sendiri. Seperti merokok di dalam masjid, membuang puntung tidak pada tempatnya, atau malah haram ketika menyemburkan asap kepada orang yang jelas tak berkenan.

Tak menutup kemungkinan hukumnya menjadi wajib manakala merokok membuat seseorang merasa bugar. "Ada kiai kalau kemudian dia bisa konsentrasi belajar kitab ditemani kopi dan rokok, merokok bisa jadi sunnah. Tapi kalau jadi sakit ya hukumnya haram. Hukum rokok ini dinamis," lanjutnya.

Kondisi-kondisi ini dimunculkan oleh para ulama kontemporer. Mereka independen dan tak terpengaruh pandangan asing. Kala itu, merokok sudah jadi budaya legal yang berpengaruh pada kedaulatan ekonomi.

Pada tahun 1980an, hukum merokok disoal, dikonfrontir oleh Instansi Kesehatan dengan pandangan para ulama di Kudus, Jawa Tengah. Diangkat ke dalam Forum Bahtsul Masail akan tetapi dituntaskan sekejap oleh KH. Turaichan Adjhuri atau Mbah Tur.

"Ketika sudah berkumpul untuk Bahtsul Masail, Mbah Tur datang diiringi santrinya, minta rokok ke santrinya lalu dinyalakan. Sambil merokok beliau bertanya Bahtsul Masail temanya apa. Spontan saja. Ayo sekarang kita bicarakan hukum merokok. Langsung Bahtsul Masail selesai begitu melihat Mbah Tur merokok. Itu sudah menjadi hukum, teladan dari sosok kharismatik yang integritas keilmuan di bidang syariat, akidah, akhlak sudah diakui, teladan dari beliau sudah cukup," kisahnya.

Ada pula cerita K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Sang Guru Sekumpul alias Guru Ijai di Banjar, Kalimantan Selatan, sewaktu disambangi para ulama ahli fatwa asal Yaman. Mereka mengajaknya berdiskusi, tapi berniat mengarahkannya untuk mengharamkan rokok.

"Di luar dugaan mereka, Guru Ijai menyambut mereka sambil merokok tanpa henti. Sehingga sepanjang mereka duduk tidak bisa muncul tema hukum merokok sampai pertemuan itu selesai," ucapnnya.

"Yang saya garis bawahi, ulama sejak dulu di Nusantara sangat konsisten tentang hukum rokok," tegasnya.

Jadul menambahkan, tembakau dengan segala manfaatnya merupakan rezeki dari Tuhan. Mengelolanya sehingga memiliki nilai ekonomi dan tradisi luhur sebagai pilihannya.

"Kita punya pola tanam, pengolahannya untuk menjadi nilai ekonomi, menjadi nilai budaya sendiri yang itu menunjukkan satu kedaulatan kita yang berbasis anugerah Tuhan di bumi ini yaitu tanaman dan tumbuhan. Oleh karenanya saya berharap pemerintah punya punya alur kebijakan pengembangan kedaulatan di bangsa ini dengan berbasis kekayaan alam kita yang ada dengan semua kedaulatannya," pungkasnya. []