Rahmah

Kiai Asrorun Niam Sholeh Tegaskan Fatwa MUI Sebagai Panduan bagi Umat

Kiai Niam berharap dengan fatwa yang dikeluarkan MUI dapat memberikan setiap porsi kemaslahatan untuk memberikan guidance atau panduan bagi umat.


Kiai Asrorun Niam Sholeh Tegaskan Fatwa MUI Sebagai Panduan bagi Umat
KH Asrorun Niam Sholeh (MUI.or.id)

AKURAT.CO Terkait posisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai khadimul ummah (menjaga umat) dan shodikul hukumah (mitra pemerintah) ditegaskan kembali oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh. Kiai Niam, sapaan akrabnya berharap dengan fatwa yang dikeluarkan MUI dapat memberikan setiap porsi kemaslahatan untuk memberikan guidance atau panduan bagi umat.

“Bahwa setiap porsi yang diambil oleh ulil amri diambil didasarkan kepada maslahah. Sementara aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip keagamaan kita,” katanya seperti dikutip MUI.or.id, Selasa (25/1/2022).

MUI, kata Kiai Niam dapat mempertemukan berbagai ormas keagamaan Islam di dalam satu forum. Menurutnya, jika tidak ada satu forum untuk memusyawarahkan berbagai masalah umat, bisa jadi yang muncul diibaratkan seperti istilah 'katak di dalam tempurung'.

baca juga:

"Proses kaderisasinya di masing-masing organisasi masyarakat Islam. Kemudian gak mau tau dengan yang lain akhirnya menjadi menjaga jarak. Majelis ulama Indonesia mendudukan perannya sebagai melting pot fungsi ketauhidan,” tuturnya.

Selain itu, Kiai Niam menyebut, fungsi MUI dalam himmayah atau perlindungan mencakup himayatuddin (menjaga agama), himmayatul ummah (menjaga umat), dan himmayatud daulah (berperan aktif menjaga negara). Menurutnya, mengenai relevansi fatwa-fatwa himmayatul ummah untuk memberikan perlindungan kepada umat dari aqaid al bathilah Iakidah yang rusak.

“Atas dasar fungsi dari MUI memberikan himmayatul ummah, terbitlah fatwa-fatwa terkait dengan aliran keagamaan yang menyimpang, kemudian kriteria aliran sesat, kriteria pengkafiran, kriteria penodaan agama,” tandas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, kata kiai Niam, ada orang yang bertanya mengenai persoalan akidah yang menjadi lingkup fatwa. Meskipun sudah dijelaskan bahwa fatwa itu berkaitan dengan hukum-hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan (tabyinu dalilin liman saala anhu) yang terkait dengan al ahkam al amaliaah).

"Sementara akidah urusan i’tiqod (kepercayaan seorang Muslim terhadap Allah SWT terhadap sifat-fatnya). Kok difatwakan, kalau dia masih berupa keyakinan itu bukan lingkup fatwa,” ungkap kiai Niam.

Oleh karena itu, kiai Niam menjelaskan, keyakinan yang menjelma menjadi ajaran kemudian didakwahkan untuk mengajak, merekrut dan menyampaikan fikirannya dalam manives aktivitas sosial kemudian menjadi ruang lingkup fatwa. []