Rahmah

KH Said Aqil Siradj Sebut NU Miliki Kekayaan Luar Biasa, Salah Satunya Kekayaan Budaya

Prof Dr KH Said Aqil Siradj mengemukakan setidaknya ada lima kekayaan yang dimiliki umat Islam di Indonesia.


KH Said Aqil Siradj Sebut NU Miliki Kekayaan Luar Biasa, Salah Satunya Kekayaan Budaya
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat memberikan ceramah dalam acara istighosah di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (28/2). Istighosah yang mengambil tema (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siradj mengemukakan setidaknya ada lima kekayaan yang dimiliki umat Islam di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan "Launching NU Chat" yang disiarkan secara langsung melalui channel YouTube TV NU, Senin (25/10/2021).

Pertama, umat Muslim di Indonesia memiliki Tharawat Ijtimaiyah atau kekayaan sosial kapital yang luar biasa. Dalam hal ini, Kiai Said menyebut peran Kiai dalam kehidupan sehari-hari sangat besar.

"Dari kecil sampai mati semua di tangan Kiai. nikah yang menikahkan Kiai. Nanti istrinya hamil tujuh bulan panggil Kiai. Melahirkan kasih nama aqiqah juga pnggil Kiai," tutur Kiai Said

Akan tetapi, lanjut Kiai Said menyebut saat ini ada sebagian orang yang iri dengan Nahdlatul Ulama. Mereka berusaha menjauhkan peran Kiai dalam kehidupan bermasyarakat. 

"Sedikit demi sedikit, masyarakat mulai jauh dari Kiai. Kalau sudah lebih jauh lagi, nanti meninggalkan Kiai. Nanti lama-lama anti atau benci Kiai," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan itu.

Jika umat Muslim di Indonesia sudah jauh dari Kiai, maka menurut Kiai Said, umat Muslim mudah untuk diadu domba yang mengakibatkan umat menjadi terpecah belah. Untuk itu, Kiai Said berharap kepada umat Muslim untuk menjaga dan mempelihara kapital sosial yang dimiliki umat Muslim di Indonesia.

Kedua, umat Muslim memiliki Tharawat Khadoriyah atau mempunyai kekayaan budaya. Kiai Said memberi contoh, dalam menyelesaikan masalah keagamaan, para ulama dan Kiai Indonesia kembali kepada literatur kitab kuning. Seperti dalam forum Munas atau Bahstul Masail, para Kiai menjadikan kitab kuning sebagai rujukan atas segala pertanyaan-pertanyaan yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Meskipun begitu, Kiai Said juga menyebut ada sebagian orang atau kelompok yang mengajak umat Muslim untuk meninggalkan kitab kuning. Sehingga Kiai Said berharap kepada umat Muslim untuk menyikapi hal tersebut dengan tegas dan bijak.

"NU tidak boleh lepas dari kitab kuning," tegas lulusan Universitas Ummul Qurra tersebut.

Ketiga, umat Muslim di Indonesia memiliki Tharawat Syiaririyah atau kapital simbolik. Kiai Said menyebut beberapa simbol yang menjadi ciri khas umat Islam di Indonesia diantaranya memakai sarung, kopiah hitam dan sebagainya. 

Keempat, umat Muslim di Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin mempunyai Tharawat Siyasah atau kapital politik. Kiai Said menyebut pada masa awal penyebaran agama Islam di Indonesia, para Wali Songo, termasuk diantaranya adalah Sunan Gunung Jati membangun Kota Cirebon, Raden Fatah menjadi pengausa Kota Demak, Sunan Ampel menjadi penguasa Surabaya.

Kemudian setelah penjajah datang, para Kiai berpindah ke kampung meninggalkan pusat kota demi menyelamatkan akidah, syariat dan akhlak membangun pesantren. Jadi menurut Kiai Said, pesantren memiliki bobot politik dalam arti keseluruhan, bukan berarti politik praktis.

Kelima, Kekayaan Ekonomi. Menurut Kiai Said, Finansial di kalangan NU masih tertinggal untuk memajukan ekonomi. []