Rahmah

KH Said Aqil Siradj: Lestarikan Budaya Selama Tak Bertentangan dengan Agama

Kiai Said menyebut bahwa budaya yang diwariskan para leluhur kemudian disatukan dengan cara harmonis oleh para wali menjadi dakwah yang strategis.


KH Said Aqil Siradj: Lestarikan Budaya Selama Tak Bertentangan dengan Agama
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat memberikan ceramah dalam acara istighosah di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (28/2). Istighosah yang mengambil tema (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siradj mengemukakan bahwa negara Indonesia mempunyai khosois, mumayuizat, dan juga tipologi yang secara pemahaman, Islam di Indonesia bukan seperti karakter Islam di Timur Tengah. Sehingga budaya yang diwariskan para leluhur kemudian disatukan dengan cara harmonis oleh para wali menjadi dakwah yang strategis.

"Agama yang merupakan wahyu, agama yang sakral, dan agama yang bersifat ilahiah. Kemudian budaya bersifat manusiawi yaitu hasil produk kecerdasan manusia, itu digabungkan sehingga saling menyempurnakan, saling mengisi dan saling memperkuat," ujar Kiai Said dalam International Symposium 2021 "Cosmopolitanism of Islam Nusantara: Spiritual Traces and Intellectual Networks on the Spice Route”, yang diunggah melalui channel YouTube NU Channel pada Senin 30 Agustus 2021.

Pengasuh Ponpes Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan itu mengatakan bahwa dakwah agama Islam menawarkan teologi dengan tidak merendahkan budaya dan tidak mengesampingkan budaya. Tak hanya itu, budaya juga dijadikan infrastruktur agama. Sehingga agamanya menjadi ramah, toleran dan moderat, sedangkan budayanya menjadi kuat dan lestari.

"Budayanya kita bela mati-matian agar lestari, agamanya kita dakwahkan sesuai dengan kekuatan budaya itu untuk memperkuat dakwah Islam" tutur Kiai Said.

Kiai lulusan Universitas Ummul Qurra itu memberi contoh pada masa Wali Songo yang tidak dilarang menggunakan alat bedug, meskipun sebenarnya bedug merupakan alat tari-tarian. Para Wali Songo bahkan melestarikan alat bedug, tetapi bukan untuk mengadakan acara musik atau tari-tarian, melainkan sebagai tanda masuknya waktu salat.

"Artinya produk budaya bangsa atau masyarakat yaitu alat seni bedug tidak disingkirkan, tidak dibuang tapi dilestarikan dan dijadikan infrastruktur agama," kata Kiai Said.

Dengan demikian, lanjut Kiai Said menjelaskan bahwa Islam Nusantara dapat dipahami sebagai harmonisasi antara spirit agama dan spirit peradaban. Menurut Kiai Said arti agama disini bukanlah agama secara formal, tetapi spirit agama itu sendiri yang dapat memberi nilai terhadap perkembangan agama.

"Kecuali ada budaya yang bertentangan dengan syariat itu kita buang. Selama tidak bertentangan dengan syariat, kita lestarikan, kita harmoniskan dan kita jadikan sebagai infrastruktur agama," pungkas Kiai kelahiran Cirebon itu. []