Rahmah

KH Nasaruddin Umar Sebut Nabi Muhammad Tidak Mewarisi Sistem Politik dalam Bernegara

Prof Nasar menjelaskan bahwa sistem politik merupakan produk atau kreasi-kreasi manusia berdasarkan kebutuhan lokalnya masing-masing.


KH Nasaruddin Umar Sebut Nabi Muhammad Tidak Mewarisi Sistem Politik dalam Bernegara
Prof KH Nasaruddin Umar (satuharapan)

AKURAT.CO Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan bahwa kata politik dalam bahasa Arab berarti Siyasah. Menurutnya, Al-Qur'an tidak pernah menyebut satu lafazpun kata Siyasah di dalamnya.

"Bukan berarti politik itu tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah etika dalam berpolitik. Etika politik itu lebih penting daripada politik itu sendiri," tutur Prof Nasar dalam video yang diunggah melalui channel YouTube Nasaruddin Umar Official pada 15 Juli 2020.

Prof Nasar menyebut bahwa ketika etika politik sudah diterapkan, maka sistem politik seperti apapun akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena di dalam Al-Qur'an dan Hadist, tidak pernah menetapkan sebuah sistem dalam berpolitik. 

Dengan demikian, lanjut Prof Nasar menjelaskan bahwa sistem politik merupakan produk atau kreasi-kreasi manusia berdasarkan kebutuhan lokalnya masing-masing. Sehingga disebut apapun sebuah sistem yang terpenting adalah substansi dari ajaran Islam itu sendiri dan tetap mendasari dengan etika berpolitik.

Prof Nasar lalu mengungkapkan bahwa ketika Rasulullah SAW menjelang wafat, Rasulullah SAW tidak pernah memberikan wasiat siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin. Dan juga Rasulullah SAW pun tidak pernah membahas tata cara menjadi pemimpin.

Begitu juga dalam Al-Qur'an yang menurut Prof Nasar tidak pernah memberikan suatu tuntutan bagaimana suksesi itu sendiri. Karena suksesi merupakan bagian yang menjadi hak-hak masyarakat setempat.

"Apa jadinya kalau seandainya Al-Qur'an menetapkan suatu sistem politik yang harus dianut oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sampai akhir zaman, pasti akan timbul sebuah persoalan," ujar Rektor PTIQ Jakarta itu.

Dengan begitu, menurut Prof Nasar bahwa Al-Qur'an dan Hadits telah memberikan kemerdekaan yang luar biasa terhadap manusia dalam menentukan pilihan-pilihan yang terbaik menurut kesepakatan bersama. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 159 yang berbunyi:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: 'Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal,". []