Rahmah

Ketum PBNU: Islam Nusantara Jangan Dikira Sekte dan Mazhab

Kiai Said mengatakan jika Islam Nusantara merupakan tipologi atau ciri khas Islam di Indonesia yang melebur dengan budaya setempat.


Ketum PBNU: Islam Nusantara Jangan Dikira Sekte dan Mazhab
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat memberikan ceramah dalam acara istighosah di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (28/2). Istighosah yang mengambil tema (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj mengajak umat Islam agar menjadi umat yang kuat dan tidak boleh lemah. Dalam arti harus menguatkan imannya, kuat ilmunya, kuat peradaban budayanya, kuat akhlaknya, kuat ekonominya serta kuat politiknya.

Kiai kelahiran Cirebon itu menegaskan jika Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan peradaban, budaya dan kekayaan simbolik yang luar biasa. Seperti di kalangan Nahdliyyin yang memiliki simbol peci hitam sebagai simbol keislaman yang khas.

"Kalau kita lewat masuk desa ada orang salat di masjid pakai kopiah hitam, wah NU. Walaupun kita tahu itu bukan syaratnya salat dan bukan rukunnya salat. Kopiah itu tidak mengurangi dan menambah nilai salat," ujar Kiai Said dalam acara Pelantikan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Kamis (16/9/2021).

Kiai Said kemudian mendoakan agar UNUSIA dibawah pimpinan rektor yang baru menjadi Universitas andalan. Terutama karena UNUSIA mempunyai jurusan yang tidak dimiliki kampus lain yaitu jurusan Islam Nusantara.

Kiai Said mengatakan bahwa Islam Nusantara bukan merupakan agama, sekte, Mazhab atau paham baru. Akan tetapi sebuah tipologi atau ciri khas Islam di Indonesia yang melebur dengan budaya setempat. Islam Nusantara merupakan sebuah ide yang dicetuskan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 2014 untuk tema besar Mukhtamar NU di tahun 2015. 

"Islam nusantara jangan dikira madzhab, bukan firqoh bukan sekte, tapi tipologi. Bagaimana Islam dimaknai dengan agama yang harmonis. Bahkan budaya dijadikan infrastruktur dari teologi itu sendiri," kata Pengasuh Ponpes Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan itu.

"Budayanya kita lestarikan, kita perkuat, setelah budayanya kuat, kita bangun agama atas budaya tersebut puncaknya hubbul Wathon Minal Iman," lanjut Kiai Said.

Hubbul Wathan Minal Iman, kata Kiai Said, bukan sebuah hadist, melainkan sebuah jargon yang dicetuskan oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy'ari. Jargon tersebut berisikan tentang bagaimana mengharmoniskan antara  wathaniyah dengan iman.

"Anda beriman, harus nasionalis, anda nasionalis harus beriman," pungkas  lulusan Universitas Ummul Qurra itu. []