Rahmah

Ketum MUI: Harus Ada Nilai Tambah dalam Berpikir

Jika seseorang ingin menaikkan derajat dalam cara berpikirnya, maka harus memiliki nilai tambah.


Ketum MUI: Harus Ada Nilai Tambah dalam Berpikir
KH Miftachul Akhyar (Kompas)

AKURAT.CO  Ketua Umum (Ketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar, mengatakan, fiqrah dapat diartikan sebagai cara berpikir. Dengan kata lain sebagai jalan untuk memikirkan ciptaan Allah SWT.

"Jadi akal ini digunakan untuk memikirkan ciptaan-ciptaan Allah guna mendapatkan buah dari pada mikirnya itu tadi," ujar KH Miftachul Akhyar dalam acara video berjudul 'Makam Salikin dan Makam Majdubin' diunggah melalui channel YouTube TV NU Televisi Nahdlatul Ulama, Senin (13/9/2021).

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menjelaskan bahwa fiqrah di dalam maqam salikin dan majdubin berarti memikirkan tentang bagaimana dia menghasilkan nilai tambah. Jadi jika seseorang ingin menaikkan derajat dalam cara berpikirnya, maka harus dilakukan dengan cara menambah nilai berpikir yang menghasilkan sesuatu yang positif.

"Jadi sekali mikir tambah iman, sekali mikir tambah iman. Kalau mikir tanpa ada nilai tambah, kosong hasilnya itu bukan mikirnya orang salikin dan juga bukan mikirnya orang majdubin," kata tokoh kelahiran Surabaya itu.

KH Miftachul Akhyar memaparkan, jika berpikirnya orang yang awam juga mempunyai keinginan untuk mendapatkan nilai tasdhiq. Meskipun tasdhiq atau iman yang dimilikinya belum sempurna.

"Istilahnya setipis kulit bawang mudah terkelupas. Imam yang setipis kulit bawang, kedatangan uang bisa melayang. Jadi iman yang setipis kulit bawang kena uang bisa melayang," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya tersebut.

KH Miftachul Akhyar menerangkan bahwa tahsdiq adalah memantapkan keyakinan atas wujud Allah SWT. Jika seseorang belum tasdhiq, masih tasawur saja, maka dalam menemukan jati dirinya belum mendapat jalan keluarnya. 

Jadi jika fiqrahnya orang awam masih setipis kulit bawang. Berbeda dengan fiqrahnya salikin dan majdubin yang berarti fiqrah seseorang yang selalu mempunyai nilai tambah. Dengan kata lain, fiqrahnya seseorang yang keimanan yang sudah mendalam.

"Misalnya dia berpikir orang-orang yang sudah mempercayai wujud Allah dengan mantap, mengimankannya dengan sungguh-sungguh, dengan apapun yang dikeluarkan selalu ada Nurul Iman," urai lulusan Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang tersebut.

KH Miftachul Akhyar menambahkan, orang yang sudah mempunyai nilai tambah dalam berpikir, dia akan selalu berpikir mendahulukan sesuatu yang menjadikan sebab kedekatannya dengan Allah SWT. Dia juga akan selalu memikirkan untuk menjauhi segala larangan Allah SWT.[]