Rahmah

Ketua MUI Sebut Radikalisme dan Liberalisme Merupakan Ajaran yang Menyimpang

Ketua MUI Sebut Radikalisme dan Liberalisme Merupakan Ajaran yang Menyimpang
Logo MUI (Humas Kemenag)

AKURAT.CO Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal Sholahuddin Al-Aiyub, mengatakan bahwa Islam wasathiyah menjadi solusi dari pemahaman menyimpang radikalisme dan liberalisme. Demikian disampaikan olehnya pada Seminar Nasional Penanggulangan Radikalisme dan Intoleran di Indonesia yang dihelat MUI Provinsi Riau, Kamis (29/09).

“Radikalisme (al-ifrath) dan liberalisme (at-tafrith) agama telah mendistorsi (menyimpangkan) pemahaman agama. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah dan upaya untuk mengembalikannya ke jalan yang lurus, yaitu mengembalikan ke Islam Wasathiyah, ” kata Aiyub dikurip AKURAT.CO, Sabtu (1/10).

Ia juga menyebut bahwa radikalisme merupakan paham yang menyimpang.

baca juga:

Radikalisme agama sendiri menurutnya menyimpang karena memahami nash agama hanya berpegang pada nash secara zhahir (manthuq an-nash) dan mengabaikan nash secara substansi (mafhum an-nash).

Radikalisme, lanjut Aiyub, merupakan pengamalan berlebihan terhadap ajaran agama. Sering pula disertai upaya mengubah tatanan pemahaman agama yang sudah ada.

"Mereka yang terpapar radikalisme juga seringkali menganggap bid’ah orang yang berbeda pemahaman dengan kelompoknya, sehingga menimbulkan ekspresi keagamaan yang intoleran," lanjut Aiyub.

Adapun liberalisme agama, lanjut Kiai Aiyub, dianggap menyimpang karena meyakini bahwa nash adalah teks terbuka yang siapapun bebas untuk menafsirkan atau menakwilkannya tanpa memperhatikan sistem dan metodologi yang telah diformulasikan oleh para ulama.

Mereka ini biasanya beralasan bahwa ajaran agama mesti sesuai dengan kemaslahatan. Sehingga apabila nash bertentangan dengan maslahat, nash lah yang harus ditinggalkan.

“Padahal menurut para ulama, jika nash bertentangan dengan kemaslahatan maka nash harus dimenangkan dan didahulukan. Karena jika bertentangan, kemaslahatannya itulah yang bersifat asumtif dan semu (maslahah mauhumah), ” terang Kiai Aiyub.