News

Ketua Komisi X Beri 5 Catatan ke Kemenpora Soal Sanksi WADA kepada Indonesia

Syaiful Huda memberikan lima catatan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait sanksi yang diberikan WADA.


Ketua Komisi X Beri 5 Catatan ke Kemenpora Soal Sanksi WADA kepada Indonesia
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda (Istimewa)

AKURAT.CO, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda memberikan lima catatan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait sanksi yang diberikan World Anti-Doping Agency (WADA) kepada Indonesia.

Pertama, Syaiful mengungkapkan ada dugaan pengabaian dari pihak Kemenpora terhadap teguran yang diberikan WADA kepada Indonesia yang telah dikirim pada 15 September 2021. Indonesia diberikan kesempatan untuk menyanggah sanksi tersebut selama 21 hari, namun surat balasan kepada WADA baru dikirimkan 7 Oktober 2021, artinya telah melewati waktu sanggah yang diberikan.

“Terjadi peremehan, bahkan menurut saya sampai pada level tidak ada upaya sama sekali (dari Kemenpora), itu yang saya sesalkan,” kata Syaiful dalam diskusi bertajuk “Sukses Tim Thomas Cup Tanpa Kibaran Maerah Putih, Ada Apa?” di Kompleks Parlemen, Kamis (21/10/2021).

Kedua, Syaiful mempertanyakan efektivitas pembentukan tim investigasi gagasan Kemenpora. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap cara kerja tim investigasi yang sedianya akan bekerja dengan cara lobying.

“Kira-kira efektif tidak tim investigasi 7 (orang) ini, kira-kira efektif tidak, lebih-lebih kalau cara kerjanya lobying,” ungkap Syaiful.

Dia mengaku khawatir WADA tersinggung dengan upaya lobi Kemenpora dan justru memperparah kondisi Indonesia yang sedang dijatuhi sanksi saat ini.

“Dengan sanksi yang dijatuhkan (kepada Inonesia) saat ini, kita nggak bisa pakai lobi, tinggal apa yang menjadi pending metersnya dipenuhi,” tandasnya.

Ketiga, Syaiful mengingatkan bahwa Kemenpora tidak perlu mengkambinghitamkan Lembaga Anti Doping Indonesia (LOBI). Kata dia, justru yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan fungsi LOBI ketimbang membentuk tim investigasi.

Keempat, penguatan LADI adalah harga mati untuk menyelesaikan masalah Indonesia dengan WADA.

“Kami melihat penguatan LADI harga mati, kita sudah bersepakat bahwa LADI harus jadi lembaga yang bermartabat, berwibawa,” imbuhnya.

Terakhir, Syaiful menginginkan bahwa isu anti-doping ini menjadi perhatian seluruh cabang olahraga di Indonesia. Pasalnya, ia melihat masih banyak cabang olahraga yang belum menganggap anti-doping ini sebagai isu krusial.[]