News

Ketua DPR RI Puan Maharani Bertemu dengan PM Kamboja Hun sen, Bahas Apa?

Ketua DPR RI Puan Maharani Bertemu dengan PM Kamboja Hun sen, Bahas Apa?
Dalam kunjungannya ke Phnom Penh pada Kamis (24/11), Ketua DPR RI Puan Maharani berbincang dengan PM Kamboja Hun Sen, membahas sejumlah isu bilateral hingga masalah kawasan seperti konflik Myanmar (TWITTER/@PeacePalaceKH)

AKURAT.CO  Ketua DPR RI Puan Maharani baru saja melangsungkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen. 

Pertemuan itu berlangsung  pada Kamis (24/11), dengan Puan melakukan kunjungan kehormatan (courtesy call) ke Kantor PM Hun Sen atau yang dikenal sebagai Peace Palace, di Phnom Penh.

Dikonfirmasi oleh situs dpr.go.id, Puan terbang  ke Kamboja untuk bertemu dengan Hun Sen sekaligus untuk menghadiri Sidang Umum ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) yang ke-43. Dalam forum Parlemen ASEAN itu, Puan menerima keketuaan (Presidensi) AIPA dari Parlemen Kamboja kepada DPR RI, yang pada tahun 2023 akan menjadi tuan rumah Sidang Umum AIPA ke-44.

baca juga:

"Yang Mulia, Indonesia akan melanjutkan tongkat estafet Presidensi AIPA seiring beralihnya Keketuaan ASEAN ke Indonesia pada tahun 2023. Saya mengucapkan terima kasih atas keketuaan Kamboja di ASEAN dan AIPA 2022 yang telah memperkuat komitmen kerja sama di kawasan," kata Puan dalam keterangan persnya, menambahkan bahwa dia berharap Kamboja akan sepenuhnya mendukung keketuaan Indonesia di ASEAN dan AIPA pada tahun depan.

Kunjungan Puan ke Phnom Penh dan pertemuannya dengan Hun Sen juga diungkap oleh kantor PM Kamboja melalui Twitternya. 

Lalu apa saja yang dibahas Puan dan Hun Sen dalam pertemuan pada Kamis hari ini?

Sejumlah isu dibahas Puan bersama dengan pemimpin Kamboja. Di antaranya adalah bagaimana Puan telah menyinggung soal agenda kekuataan Indonesia pada tahun 2023 yakni ‘ASEAN Matters: Epicentrum of Growth’, di mana agenda tersebut akan bersifat inklusif, ambisius, dan berorientasi aksi. 

Puan juga menyampaikan harapannya agar Indonesia dan Kamboja terus memperkuat kerja sama di berbagai bidang, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan regional yang dihadapi ASEAN, seperti pemulihan pasca pandemi Covid-19 hingga masalah tingginya harga energi dan pangan.

 "Kerja sama antar parlemen Indonesia-Kamboja perlu terus ditingkatkan. Hubungan bilateral kedua negara ini akan semakin kuat, jika kerja sama antar parlemen juga erat. Selain itu, people-to-people contact penting untuk terus dikembangkan dalam mendukung hubungan lebih erat kedua negara," ucap Puan. 

Dalam hal kerja sama ekonomi, Puan menyoroti nilai perdagangan antara Indonesia dan Kamboja yang terus berkembang dan memiliki potensi sangat besar. Dilaporkan bahwa total neraca perdagangan kedua negara pada periode Januari-September 2022 meningkat 38,1 persen dari tahun 2021. 

"Saya mendorong kedua negara untuk memperluas hubungan perdagangan di berbagai sektor, termasuk perdagangan industri alat berat, sarang burung walet dan suplemen herbal serta komoditas hortikultura," kata Puan.

Puan berharap peningkatan juga terjadi dalam bidang kerjasama infrastruktur.

Indonesia tercatat telah menanamkan investasinya di Kamboja, terutama dalam sektor garmen, tembakau, perhotelan bisnis, telekomunikasi, dan layanan lainnya. Namun, Puan, dalam pernyataannya, mengungkap maksud Indonesia yang ingin mendukung konektivitas Kamboja, karenanya Jakarta juga ingin berinvestasi dalam proyek pengembangan moda transportasi kereta api di negara itu. 

Bagaimanapun, Puan tidak hanya membahas soal hubungan dan kerjasama antara Indonesia-Kamboja, tetapi juga masalah di kawasan, seperti konflik di Myanmar. Seperti diketahui, Myanmar hingga kini menghadapi ketidakstabilan politik terutama sejak militer melakukan kudeta kepada para pemimpin terpilih pada Februari lalu.

Dalam pertemuannya dengan Hun Sen, Puan menyinggung soal implementasi ASEAN Five Point Consensus terkait Myanmar yang tidak berjalan dengan lancar. Kekerasan serta pelanggaran hak asasi manusia masih menjadi masalah di negara itu, dengan ribuan orang tewas dan ditahan sehubungan dengan demokrasi menentang kudeta.

"Situasi di Myanmar mengkhawatirkan, sehingga kita harus bekerja sama membantu memulihkan demokrasi di Myanmar. Dalam kaitan ini, krisis di Myanmar juga berpotensi untuk mengganggu stabilitas Kawasan.

"Tentu kita tidak ingin stabilitas kawasan terganggu karena berlanjutnya krisis di Myanmar. Stabilitas kawasan merupakan prasyarat utama bagi pemulihan dan pembangunan ekonomi. Saya berpandangan dukungan parlemen dalam penyelesaian krisis di Myanmar sangat dibutuhkan," kata mantan Menko PMK itu, sebagaimana dikutip dpr.go.id.

Menariknya, Puan dan Hun Sen ternyata juga berbicara soal  Presiden pertama Indonesia Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno. Dilaporkan bahwa dalam percakapan itu, Hun Sen sampai mengenang Bung Karno, yang tidak lain adalah kakek Puan. Hun Sen mengatakan bahwa dia sempat menyambut Bung Karno dalam kunjungannya ke Kamboja.

Puan pun mengatakan bahwa Kamboja adalah negara yang cukup dekat dengan keluarganya. []