News

Ketua DPD RI: Perubahan Konstitusi Hancurkan Ingatan Kolektif Bangsa

LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan dampak perubahan konstitusi UUD 1945 yang dilakukan dalam kurun waktu 1999-2002 sangat besar. 

Ketua DPD RI: Perubahan Konstitusi Hancurkan Ingatan Kolektif Bangsa
Ketua DPD RI AA Lanyalla Mattalitti (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan dampak perubahan konstitusi UUD 1945 yang dilakukan dalam kurun waktu 1999-2002 sangat besar. 

"Ancaman paling serius bagi Indonesiaadalah penghancuran ingatan kolektif bangsa dengan metode damai atau non-militer. Yaitu dengan menjauhkan generasi bangsa itu dari ideologinya," tutur LaNyalla, saat mengisi Kuliah Umum dengan tema "Mengembalikan Kedaulatan dan Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat" di Aula Ratona Wali Kota Palopo, Kamis (22/9/2022).

Setelah ingatan kolektif tersebut hancur, bangsa ini akan dipecah belah persatuannya.

baca juga:

"Untuk kemudian dipengaruhi, dikuasai dan dikendalikan pikirannya, agar tidak memiliki kesadaran, kewaspadaan dan jati diri atau identitas, serta gagal dalam regenerasi untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa," katanya.

LaNyalla mengatakan, amandemen konstitusi pada 1999-2002 memiliki agenda terselubung tersebut. 

"Dan, kita secara tidak sadar telah kehilangan jati diri atau identitas, karena amandemen tersebut menjauhkan bangsa ini dari ideologi Pancasila yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara," tutur LaNyalla.

Ancaman lainnya adalah proses pencaplokan bangsa ini oleh bukan orang Indonesia asli yang dilakukan dengan tiga tahapan yakni, kuasai perekonomiannya, kuasai politiknya dan kuasai Presiden dan Wakil Presiden-nya.

Hal itu terjadi setelah UUD hasil amandemen 1999-2002 mengubah pasal 6 UUD 1945 pada kalimat ‘Presiden Indonesia ialah Orang Indonesia Asli’. 

"Jika tiga epicentrum penting tersebut sudah dikuasai oleh bukan orang Indonesia asli, maka Anda semua tidak akan bisa apa-apa lagi," kata LaNyalla.