Ekonomi

Ketersediaan Telur Ayam Diprediksi Alami Defisit Bulan Depan

Ketersedian telur ayam ras pada bulan Mei diperkirakan akan mengalami defisit


Ketersediaan Telur Ayam Diprediksi Alami Defisit Bulan Depan
Hasil panen telur ayam ternak di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Jumat (3/8/2018). Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatatkan inflasi Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Angka tersebut turun dari pada inflasi Juni 2018 lalu yang sebesar 0,59 persen. Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh peningkatan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan telur ayam ras yang menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi Juli 2018, disusul oleh daging ayam ras dan bensin. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah menyampaikan bahwasanya ketersediaan daging ayam ras di bulan April 2021 ini cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa, dimana potensi ketersediaan daging ayam ras bulan April sebanyak 336.311 ton. Sedangkan untuk kebutuhan daging ayam ras bulan April sebanyak 266.536 ton, hal ini menunjukan adanya potensi surplus sebanyak 69.775 ton.

"Sedangkan untuk ketersediaan telur ayam ras pada bulan April ini menunjukan potensi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan lebaran Idul Fitri nanti, dimana potensi ketersediaan telur ayam ras bulan April ini sebanyak 441.996 ton sedangkan kebutuhannnya sebanyak 438.064 ton dengan akumulasi potensi surplus sebanyak 3.932 ton," ucapnya pada saat konferensi pers INDEF bersama media di Jakarta, Kami (22/4/2021).

Kemudian jika berbicara untuk bulan Mei nanti, tambahnya, potensi ketersediaan daging ayam ras bertepatan dengan hari raya Idul Fitri nanti sebanyak 341.259 ton, kebutuhan daging ayam ras bulan Mei ini dikalkulasikan sebanyak 288.237 ton yang memiliki potensi surplus sebanyak 53.122 ton.

Berbeda dengan daging ayam, ketersedian telur ayam ras pada bulan Mei diperkirakan akan mengalami defisit, dimana di bulan Mei ini ketersediaan telur ayam hanya mencapai 454.540 ton sedangkan kebutuhannya sebanyak 478.320 ton dengan total selisih defisit sebesar 23.789 ton.

"Oleh karena itu kami merekomendasikan agar peternak meningkatkan produktivitas telur harian dan memperpanjang masa akhir sampai umur 95 minggu," ujarnya.

Menurutnya, sekarang dalam negeri punya stok banyak kalau mau dilakukan operasi pasar hasil pemotongan para pelaku usaha karena penurunan demand (permintaan) selama Covid-19 ini. Dengan melimpahnya pasokan daging ayam ras, tutur Nasrullah, maka masyarakat tak perlu khawatir akan terjadinya lonjakan harga.

Jika pun terjadi kenaikan harga tak wajar di pasar, ia menjamin pemerintah siap melakukan operasi pasar dengan mengeluarkan pasokan yang sudah ada.

"Dari kelebihan produksi kita hanya kurangi 70% kelebihannya. 30% kita simpan sebagai buffer. Untuk berjaga. Jadi kalau hitungan sebenarnya tidak ada kekurangan pasokan yang ada adalah kenaikan harga yang mungkin memanfaatkan momen puasa," tandasnya.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu