Rahmah

Ketentuan Membayar Utang Bagi Orang yang Sudah Meninggal Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah

Agama Islam mengajarkan kepada orang yang sudah mampu untuk melunasi utang, agar sesegera mungkin melunasi utangnya dan jangan menunda-nunda.


Ketentuan Membayar Utang Bagi Orang yang Sudah Meninggal Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah
Logo Muhammadiyah (pinterest.com)

AKURAT.CO Pada dasarnya orang yang berutang memiliki kewajiban untuk membayarnya. Sebab definisi agama dalam Islam diambil dari kata din yang berasal dari kata dayana. 

Kemudian kata dayana dapat berubah menjadi kata dayn yang berarti utang. Sehingga seseorang Muslim yang tidak menjalankan perintah agama, seperti kewajiban melaksanakan salat lima waktu, menunaikan zakat, dan berpuasa, maka bisa dikatakan orang tersebut memiliki utang kepada Allah SWT.

Misalnya seseorang yang tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan karena ada sesuatu kendala, maka diwajibkan baginya untuk menggantinya di hari lain. Sehingga muncul dari istilah sehari-hari masyarakat yang disebut dengan membayar utang puasa.

Karena itu, Rasulullah SAW menjelaskan dalam sebuah Hadits: 

 مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ  

“Menunda-nunda membayar utang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman,” (HR Bukhari).

Lantas bagaimana dengan orang yang sudah meninggal dunia tetapi masih memiliki utang?

Berkaitan dengan ini, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Syamsul Hidayat menyebut, jika ada seseorang yang menunda-nunda utangnya sampai meninggal dunia dan belum melunasi utangnya, sedangkan ia meninggalkan harta waris, maka pelunasan utanya diambil dari harta warisannya sebelum dibagi kepada ahli warisnya. Sebagaimana dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 11:

مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ

"Dalam membagi harta warisan, harus ditunaikan terlebih dahulu wasiatnya. Begitu juga ditunaikan semua utang-piutangnya," ujarnya dalam Kajian Tarjih Online yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Selasa (30/11/2021).

Lebih dari itu, Syamsul mengatakan, membayar atau melunasi utang adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang berutang. Bahkan Islam mengajarkan bagi orang yang sudah mampu untuk melunasi utang, agar sesegera mungkin melunasi utangnya dan jangan menunda-nunda. Sebab menunda-nunda utang bagi orang yang memiliki kemampuan untuk melunasinya, disebut dengan tindakan zalim.

Syamsul juga menyampaikan, bahwa mengambil tanggungjawab utang dari orang lain dari ahli warisnya juga merupakan perbuatan baik dan dibenarkan oleh agama. 

"Jadi kalau tahu ada saudaranya yang berutang, kemudian saudaranya belum mampu membayar sampai dia meninggal dunia, maka keluarganya menyatakan saya mengambil alih utang saudaraku ini, karena barang siapa yang merasa punya piutang kepada saudaraku ini, silahkan berhubungan dengan saya, saya akan melunasinya," urainya.

Dengan demikian, lanjut Syamsul menjelaskan, orang yang seperti ini disebut dengan orang yang memiliki sifat terpuji. Karena dia telah membantu orang lain dalam perbuatan yang baik dan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

"Jadi orang yang meninggal, kalau masih punya utang, kalau dia masih punya tinggalan harta, maka ahli waris tadi harus menunaikan dulu utang-utangnya, baru kalau ada sisa, dibagi harta warisnya kepada ahli waris," tandasnya. []