Yohanes Handoko Aryanto / Ardha Pradikta Rahardjo

• Yohanes Handoko Aryanto (Pertamina Energy Institute | MBA Energy Management – University of Aberdeen) • Ardha Pradikta Rahardjo (Electrical Engineer PT Pertamina EP | MSC Sustainable Energy Futures – Imperial College London).
Ekonomi

Ketahanan Transisi Perubahan Iklim

Cuaca ekstrem yang semakin sering dan intens merupakan dampak dari perubahan iklim, dan kerugian yang diakibatkan sangat besar.


Ketahanan Transisi Perubahan Iklim
Ilustrasi - Energi Baru Terbarukan (EBT) (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO  Selain pandemi Covid-19 yang masih berlanjut dengan munculnya varian baru, tahun 2021 ditandai juga dengan terjadinya cuaca ekstrem.

Pada bulan Februari, cuaca dingin ekstrem mendisrupsi Texas, Amerika Serikat (AS), membuat 4 juta rumah tangga tidak memiliki akses listrik selama lima hari. Baru-baru ini, gelombang panas menewaskan ratusan orang di Kanada, dan menyebabkan kebakaran hutan yang hebat di California (AS), dan Rusia. Sementara itu, London, New York, serta beberapa kota di China dan Jerman mengalami banjir karena hujan lebat.

Cuaca ekstrem yang semakin sering dan intens merupakan dampak dari perubahan iklim, dan kerugian yang diakibatkan sangat besar. Sebagai contoh, AccuWeather memperkirakan kerugian yang ditimbulkan oleh cuaca dingin di Texas pada tahun ini mencapai sekitar Rp1.88 triliun.

Risiko Dekarbonisasi dalam Ketahanan Iklim

Jika melihat satu hal positif yang terjadi di 2021, muncul peningkatan kesadaran dunia untuk melawan perubahan iklim. Komitmen emisi nol karbon atau sering disebut net-zero diserukan oleh berbagai pemerintahan ataupun korporasi.

Dalam proses ini, ketersediaan dan keandalan energi listrik menjadi salah satu kuncinya. Hal itu, antara lain, dilakukan dengan inisiasi kendaraan listrik atau elektrifikasi peralatan industri dan rumah tangga (misalnya kompor listrik).

Permasalahannya, transisi energi rendah karbon dalam situasi perubahan iklim menimbulkan risiko.

Pertama, cuaca ekstrem meningkatkan kebutuhan listrik secara signifikan di sisi konsumen. Sebagai contoh ketika suhu panas, pemakaian pendingin ruangan (AC) meningkat. Sebaliknya, ketika suhu dingin, pemakaian pemanas ruangan melonjak. Di California, sebagai contoh, pemakaian AC yang meningkat karena gelombang panas menyebabkan beban grid listrik melonjak.

Kedua, cuaca ekstrem menurunkan kapasitas pasokan dari sistem pembangkit. Efisiensi panel surya akan turun ketika terjadi gelombang panas atau suhu dingin ekstrem. Turbin angin rentan terhadap badai angin. Sementara kekeringan panjang menyebabkan pembangkit listrik tenaga air, yang merupakan sumber energi baru terbarukan (EBT) terbesar di dunia, tidak dapat beroperasi secara optimal, seperti yang terjadi di China atau AS.