Tech

Kesenjangan Keamanan Siber Harus Segera Diatasi Oleh Para Pemangku Kepentingan di Asia Pasifik

Kemampuan pertahanan siber suatu negara seringkali dibatasi oleh pengetahuan sumber daya manusia


Kesenjangan Keamanan Siber Harus Segera Diatasi Oleh Para Pemangku Kepentingan di Asia Pasifik
Teknologi keamanan siber (Istimewah)

AKURAT.CO Online Policy Forum ke-3 yang dipresentasikan oleh Kaspersky memusatkan perhatian pada sumber daya dunia maya dan kebutuhan keahlian di tengah digitalisasi yang cepat di kawasan Asia Pasifik.

Forum virtual ini diikuti oleh panel pembicara tingkat tinggi dari Kawasan Asia Pasifik. Forum ini mengungkap bahwa kemampuan pertahanan siber suatu negara seringkali dibatasi oleh pengetahuan sumber daya manusianya dan kualitas kolaborasi lintas batas antara organisasi swasta dan publik di kawasan tersebut. 

Para pembicara menegaskan kesenjangan keamanan siber harus segera diatasi oleh para pemangku kepentingan di Asia Pasifik untuk membangun ruang siber yang lebih aman.

Chris Connell selaku Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky mengatakan berinvestasi dalam bakat siber dan mempromosikan kesadaran keamanan serta pendidikan digital bagi para pengguna adalah kunci kesuksesan dalam membangun keamanan siber masyarakat dan ekonomi digital yang tangguh.

Kaspersky sebagai perusahaan keamanan siber global menurutnya telah menjadi mitra terpercaya Interpol.

"Pada tahun 2019, Kaspersky telah memperluas kerja samanya dengan lembaga penegak hukum tersebut dalam memerangi para pelaku kejahatan siber dengan memberikan dukungan sumber daya manusia, pelatihan, dan data intelijen ancaman tentang aktivitas kejahatan dunia maya terbaru," ujarnya dalam Online Policy Forum Asia Pasifik ke-3 Kaspersky dengan tema “Ketahanan Siber yang Lebih Kuat melalui Peningkatan Kapasitas Siber" pada Selasa (14/9/2021).

Chris menuturkan Kaspersky memahami kebutuhan akan talenta baru di dunia siber pada wilayah tersebut, sehingga perusahaan telah memperluas program magang SafeBoard yang populer di Asia Pasifik tahun ini. Melalui program ini, kandidat lokal dari Singapura dapat memilih berbagai posisi teknis dan non-teknis dan bergabung di industri keamanan siber.

Sementara itu, Craig Jones selaku Cybercrime Director dari Interpol menjelaskan berbagai penelitian yang dirilis selama beberapa tahun terakhir telah mencatat kesenjangan keterampilan keamanan siber global, khususnya di Asia Pasifik. Hal itu menurutnya disebabkan oleh proses digitalisasi yang masif di kawasan tersebut, begitu juga risiko keamanan sibernya.

“Dengan terus meningkatnya ancaman siber dan aktivitas kejahatan siber yang berdampak pada masyarakat, sebuah paradigma baru telah muncul dalam penegakan hukum global. Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi Interpol adalah kesenjangan dalam kemampuan dan kapasitas siber penegakan hukum, secara nasional, regional, dan global disaat jaringan kriminal terus memperluas infrastruktur dan aktivitasnya," sebut Jones.

"Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, penegak hukum harus menjadi mitra terpercaya secara regional. Menjadi kolaboratif, inklusif dan terbuka akan membantu kita mengurangi kesenjangan, serta meningkatkan kemampuan dan kapasitas siber,” pungkasnya.