Salamuddin Daeng

Peneliti Senior Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).
News

Kesehatan Publik, Tembakau dan Covid-19

Tembakau ini harus ditangani dengan kesiapan nasional kita sendiri.


Kesehatan Publik, Tembakau dan Covid-19
Petani menjemur tembakau di Temanggung, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN)

AKURAT.CO, Berbagai regulasi/kebijakan pemerintah yang membatasi ruang gerak tembakau, masuk dengan satu pondasi ideologi bernama public health (kesehatan publik). Kesehatan publik menjadi dasar bagi pemerintah untuk membangun regulasi dan melakukan kontrol terhadap kesehatan publik. Rokok bersifat sukarela saja, kalau orang merokok ya menerima dampak sendiri. Tapi kemudian oleh internasional dimasukan dalam format public health.

Ini yang menjadi dasar dibuat segala macam peraturan, termasuk pembatasan penggunaan tembakau dengan alasan kesehatan oleh pemerintah di semua negara. Jadi semua negara dipayungi oleh regulasi internasional di bawah Badan Kesehatan Dunia (WHO), nama regulasinya adalah Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam kerangka untuk melakukan pembatasan tembakau.

Didalam FCTC tidak disebutkan pembatasan konsumsi atau produksi, tapi seluruh aspek ekonomi dan sosial. Semua aspek ekonomi dibatasi, seluruh ruang sosial masyarakat yang menggunakan tembakau ini juga dibatasi.

Logika kesehatan publik ini menjadi pintu masuk. Walaupun sebetulnya logika kesehatan publik ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, bahwa pembatasan tembakau itu masuk dalam domain kesehatan publik. Maka dibangunlah berbagai penelitian, argumentasi yang seolah-olah ilmiah bahwa benar rokok menyebabkan gangguan kesehatan yang bersifat epidemik.

Publik bisa mempelajari pandemi Covid-19 yang berlangsung saat ini, bagaimana rezim kesehatan publik masuk. Covid-19 dan tembakau ini sama perlakuannya. Kalau Covid-19 menggunakan logika kesehatan publik maka orang harus physical distancing. Demikian juga berlaku pada rokok, antara yang merokok dan tidak merokok harus physical distancing. Orang merokok harus diisolasi di tempat-tempat tertentu, sama seperti Covid-19 mereka diisolasi juga. Mirip sekali penanganannya dengan penanganan tembakau.

Aktor-aktor yang terlibat dalam rezim kesehatan publik, baik pada tembakau dan Covid-19 dan farmasi pelakunya sama, orangnya itu-itu juga. Jadi, perlakuan rezim ini mirip. Jika kita ingin belajar bagaimana pembatasan tembakau dilakukan oleh rezim kesehatan publik, lihat saja bagaimana Covid-19 dimainkan oleh rezim kesehatan publik yang sama. Seperti halnya vaksinasi, di tembakau orangnya harus divaksinasi juga namanya Nicotin Replacement Therapy. Kalau yang ini jualan vaksin, yang sini jualan vaksin juga tapi therapis.

Untuk mengembangkan menjadi suatu Gerakan, maka Lembaga-lembaga internasional melakukan donasi. WHO sendiri didonasi oleh perusahaan farmasi raksasa. Jadi yang berkontribusi besar pada pembatasan tembakau ini berasal dari perusahaan-perusahaan farmasi raksasa. Maka, WHO selain mendapatkan pembiayaan dari pemerintah (government), juga berasal dari perusahaan-perusahaan farmasi, sehingga agenda mereka didorong oleh suatu ideologi tertentu dan strategi tertentu, dimana strateginya datang dari perusahaan-perusahaan farmasi untuk kerangka Nicotin Replacement Therapy (NRP). Bagaimana nasib tembakau sejak gerakan ini dibangun?

Sebagian besar kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia didorong dari Barat. Negara-negara lain sudah menandatangani FCTC, sementara Indonesia belum. Kalau kita melihat Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, merupakan adopsi penuh dari prinsip-prinsip dalam FCTC.

Dalam FCTC disebut pembatasan tembakau itu ada yang sifatnya ekonomi dan non ekonomi. Yang ekonomi itu ada tax (pajak), cukai dan klausul-klausul yang bersifat ekonomi. Ada juga pembatasan non ekonomi. Mereka masuk model pembatasan yang menyeluruh karena menganggap ini adalah epidemi. Tembakau ini sudah dianggap sebagai wabah sehingga konteks penanganannya harus mengamputasi sumber wabah secara menyeluruh.

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co