Lifestyle

Kerap Disimpan, Apa Fungsi Tali Pusar Bayi?

Banyak orang tua menyimpan tali pusar bayi. Menurut tradisi dan medis, tali pusar ini bisa menyembuhkan pemiliknya saat sakit.


Kerap Disimpan, Apa Fungsi Tali Pusar Bayi?
Bayi perempuan Afganistan itu diberi nama sesuai dengan kode panggilan pesawat Angkatan Udara AS yang ditumpanginya (India.com)

AKURAT.CO, Tali pusar adalah penghubung ibu dengan janin yang dikandungnya. Selama kehamilan, tali pusar akan mengirimn nutrisi dan oksigen ke janin yang sedang berkembang dari plasenta.

Setelah lahir, tali pusar tidak lagi diperlukan, jadi itu dijepit dan dipotong. Biasanya, tali pusar yang sudah dipotong akan disimpan oleh orangtua. Menurut masyarakat Jawa, tali pusar tersebut mampu bisa memberikan keselamatan pada anak.

Sementara, masyarakat Bali meyakini itu bisa melindungi Si Kecil. Ada pula kepercayaan yang menyebutkan jika tali pusar bisa menjadi obat bagi pemiliknya saat sakit. Pengobatan dilakukan dengan cara meminum air hasil rendaman tali pusar tersebut.

Cara ini memang belum terbukti secara medis. Akan tetapi, sejumlah penelitain menunjukkan tali pusar bayi bisa bermanfaat untuk pemiliknya di masa depan. 

"Tali pusar memiliki sel punca yang paling baik di tubuh manusia. Kegunaannya bisa membantu menyembuhkan penyakit anak tersebut di masa depan,” jelas dr. Ardiansjah Dara, SpOG dari Rumah Sakit Siloam MRCC, dikutip AKURAT.CO pada Selasa, (19/10/2021).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sel punca atau stem cell ini bisa digunakan jika suatu saat Si Kecil menderita penyakit berat, termasuk kanker darah, tumor padat seperti limfoma, kelainan darah, rheumatoid arthritis, Parkinson. 

“Sel punca memiliki dampak yang baik untuk anak dengan kelainan darah seperti leukimia dan thalasemia. Selain itu, dapat juga digunakan untuk anak dengan cerebral palsy,” jelas direktur laboratorium Cordlife Group Limited, Li Ming Ming, PhD.

Sel punca adalah darah yang tersisa di dalam tali pusar. Pada saat bayi lahir, dokter akan menjepit tali pusar dan bersiap memotongnya. Darah yang tertinggal di dalamnya itulah yang diambil dan diproses dalam laboratorium. Darah ini kaya akan haematopoetic stem cells (HSC), yang merupakan sel murni dan menjadi asal mula sel-sel darah lainnya.

Dari proses tersebut, akhirnya didapatkan sel punca yang akan disimpan dalam lemari pembeku dengan suhu sekitar -196 derajat Celsius. Sel punca beku ini dapat bertahan hingga setidaknya 10 tahun tanpa mengalami kerusakan.

“Biasanya, sel punca ini bisa ditemukan di lemak, atau sum-sum tulang belakang. Tapi, seiring bertambahnya usia, sel tersebut tidak telalu memiliki kinerja yang baik. Kalau dari tali pusar, kinerja masih sangat optimal,” tukas dr. Ardiansjah. 

Perlu diingat bahwa tak ada jaminan kalau pengobatan dengan sel punca bisa berhasil. Adapun kebijakan tentang sel punca atau stem cell sudah dibuat Kemenkes RI bekerjasama dengan Komite Sel Punca dan Sel, antara lain Peraturan Menteri Kesehatan nomor 48 tahun 2012 tentang Bank Sel Punca Darah Tali Pusat, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 50 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengolahan Sel Punca Untuk Aplikasi Klinis, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 62 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Bank Jaringan dan atau Sel, dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 32 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan atau Sel.[]