Lifestyle

Mengenal Sekilas Koneksi Kerajaan Melayu dan Sriwijaya di Andalas

Kerajaan Melayu atau Malayu adalah kerajaan yang pernah berdiri di Jambi pada abad ke -7, yang pernah menguasai jalur perdagangan Selat Malaka


Mengenal Sekilas Koneksi Kerajaan Melayu dan Sriwijaya di Andalas
Bagian arca dari Prasasti Amoghapasa disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Melayu (Museum Nasional)

AKURAT.CO, Kerajaan Melayu atau Malayu adalah kerajaan yang pernah berdiri di pantai Sumatera Timur. Dari berita Tiongkok yang dikutip dari buku "Kerajaan-Kerajaan Nusantara" karya Woro Miswati, diketahui bahwa Kerajaan Melayu berdiri sekitar abad ke-6, dengan pusat di Minanga. 

Sementara pada abad ke-13, pusat kerajaan berpindah sehingga berada di Dharmasraya dan pada abad ke-15 berpusat di Pagaruyung. 

Namun, belum ada bukti sejarah yang memuat tentang siapa pendiri Kerajaan Melayu ini. Dari catatan musafir I-Tsing, disebutkan raja dari Kerajaan Melayu yang pertama kali ditemukan adalah Raja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa, yang berkuasa mulai 1183 di Dharmasraya. 

Berikut susunan Raja-raja Kerajaan Melayu, sesuai berita Tiongkok dan catatan musafir I-Tsing 

- Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1183 M).

- Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (1286 M).

- Akarendrawarman (1316 M).

- Adityawarman (1347 M).

- Ananggawarman (1375 M).

Namun, gelapnya sumber sejarah Kerajaan Melayu mengenai cakupan wilayah kekuasaannya, membuatnya sampai saat ini masih belum bisa dibuktikan secara pasti mana saja wilayah Kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya. Mengingat, kedua kerajaan itu memiliki masa perkembangan yang sama.

Namun, menurut Slamet Mulyana dalam buku "Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi", mengemukakan bahwa Kerajaan Melayu berada di Jambi, sedangkan Sriwijaya berada di Palembang.

Keduanya juga bisa dipastikan sebagai kerajaan maritim. Adanya informasi tersebut memunculkan dugaan bahwa jalur Sungai Batanghari menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Melayu.

Pemikiran George Coedes terkait kerajaan di Sumatra dalam buku yang berjudul "Kedatuan Sriwijaya Penelitian Tentang Sriwijaya", mengakui bahwa letak kerajaan Melayu sudah jadi pokok pembicaraan selama bertahun-tahun, apakah letaknya berada di pantai Sumatra sebelah barat atau sebelah timur ataupun di bagian selatan Semenanjung Melayu.

Meski diliputi perdebatan, catatan I-tsing cukup jadi bukti kuat bahwa kerajaan Melayu letaknya berdekatan dengan Che-li-fo-che alias Sriwijaya. Berkat I-tsing pula, Sriwijaya diketahui pernah mencaplok kerajaan Melayu antara tahun 672M-675M sehingga bisa memegang kendali perdagangan di Selat Malaka.

Meski pernah dicaplok oleh Kerajaan Sriwijaya, ternyata Kerajaan Melayu sempat mempunyai hubungan baik dengan salah satu kerajaan di Pulau Jawa. Dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama dikatakan bahwa pada tahun 1275 M, Raja Kertanegara, raja yang memimpin Singasari, mengirim pasukannya ke Melayu. Diplomasi tersebut kemudian dikenal dengan Pamalayu. 

Ekspedisi ini dilakukan pada 1275 M dan dipimpin oleh Kebo Anabrang. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa ekspedisi Pamalayu dilakukan Kertanegara untuk memperluas daerah kekuasaan di luar Jawa.

Namun, beberapa ahli sejarah meyakini bahwa ekspedisi ini dilakukan untuk membendung bangsa Mongol / Kublai Khan yang saat itu ingin memperluas wilayah jajahannya ke Asia Tenggara.

Ancaman Kublai Khan ini yang mendasari Kertanegara menggalang kekuatan beberapa kerajaan, termasuk kerajaan Melayu. Sebagai tanda persahabatan, Kertanegara membawa tiruan patung Ranggawuri dari Candi Jago. 

Patung tersebut kini berada di Jambi Hulu. Sejak saat itulah, Melayu jadi kerajaan besar yang sukses menggeser Sriwijaya.

Tak hanya itu, persahabatan antara Kertanegara dengan Kerajaan Melayu cukup berhasil. Bahkan di tahun 1286 M, Kertanegara mengirim patung Amoghapasa Lokeswara lengkap dengan 14 dewa pengiringnya ke Kerajaan Melayu.

Patung tersebut awalnya dihadiahkan kepada Tribhuwanaraja, raja Melayu di Dharmasraya. Namun pada 1347 Masehi, Adityawarman, raja setelahnya, menambahkan pahatan aksara di bagian belakang patung sehingga menjadi prasasti. 

Pada prasasti ini, menyatakan bahwa patung tersebut adalah perlambangan dari dirinya. Prasasti tersebut kemudian disebut dengan Prasasti Amoghapasa.

Kini, Prasasti Amoghapasa disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dengan nomor inventaris D.198-6469. 

Buat kamu yang mau melihat jejak Kerajaan Melayu melalui Prasasti Amoghapasa, kamu bisa mengunjungi Museum Nasional Indonesia, di Jakarta Pusat.[]