Rahmah

Kepustakaan Islam Dorong Implementasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Literasi

Kepustakaan Islam Abdullah AlKhalis mengatakan, untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan masjid, maka perlu adanya ajakan sebuah gerakan sosial.


Kepustakaan Islam Dorong Implementasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Literasi
Ilustrasi buku untuk literasi (Dok. Kemenparekraf)

AKURAT.CO Buku digital atau buku elektronik ternyata masih eksis bersamaan dengan buku fisik. Sebab masing-masing memiliki segmen khalayak pembaca atau atau para penggemarnya.

Subkoordinator Pengendalian Mutu Naskah Agama dan Kegamangan Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI Nur Rahmawati menyampaikan, buku elektronik atau buku digital ternyata masih digemari di semua kalangan, bukan hanya kaum milenial saja. 

"Sebaliknya misalnya sebelumnya milenial yang hanya menggemari buku fisik namun bersifat lintas generasi antara buku digital atau elektronik dan fisik ini di antara keduanya sama-sama memiliki pembacanya masing-masing," ujarnya dalam Webinar Obrolan Seputar Soal Islam (Obsesi) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, disiarkan secara live melalui YouTube Bimas Islam TV, Rabu (18/5/2022).

baca juga:

Dengan adanya Webinar ini, pihaknya berharap digitalisasi dapat memperluas kesempatan posisi atau rangking kita dalam membaca negara kita  lebih baik dari waktu-waktu yang lampau. Karena riset terakhir pada tahun 2020, negara Indonesia tercatat berada di posisi ke-77 dari 78 negara dalam hal membaca.

"Tentunya ini sangat memprihatinkan," kata dia.

Sementara Kepustakaan Islam Abdullah AlKhalis mengatakan, untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan masjid, maka perlu adanya ajakan sebuah gerakan sosial untuk menyumbangkan atau mengkontribusikan buku yang mungkin dimiliki di masjid-masjid di sekitar. 

"Hal ini agar kemudian bersama-sama membangun masjid sebagai salah satu pusat budaya literasi ke-Islaman," pungkasnya.

Hari Buku Nasional

Seperti diketahui, Hari Buku Nasional atau Harbuknas diperingati di Indonesia setiap tanggal 17 Mei. Peringatan ini pertama kali dimulai pada 17 Mei 2002. Hari Buku Nasional dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, yang kala itu menjabat sejak tahun 2001 hingga 2004.  Kala itu Abdul Malik Fadjar ingin menaikkan penjualan buku, mendorong minat baca dan meningkatkan angka melek huruf  masyarakat Indonesia.

Pada saat itu, Indonesia tercatat hanya mencetak rata-rata 18 ribu buku setiap tahunnya. Angka itu termasuk rendah dibandingkan Jepang yang mencetak 40 ribu buku setiap tahunnya. Bahkan UNESCO mencatat jika angka melek huruf orang dewasa hanyalah di angka 87,9 persen, lebih rendah dari Tahiland (92,6 persen) dan Vietnam (90,3 persen). 

Membaca pada dasarnya memiliki banyak manfaat. melansir dari Healthline, rutin membaca buku bisa meniknatkan kesehatan otak, meningkatkan kemampuan berempati, menambah kemampuan berbahasa mencegah penurunan fungsi kognitif, meningkatkan kualitas tidur dan menjaga kesehatan mental. []