Arli Aditya Parikesit

Ketua Departemen Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Muda Indonesia (ALMI) dan Masyarakat Bioinformatika dan Biodiversitas Indonesia (MABBI)
News

Kepentingan Independen ASEAN dalam Mencegah Ancaman Pandemi COVID-19

ASEAN dituntut menjadi organisasi regional yang bisa bersinergi memerangi Covid-19


Kepentingan Independen ASEAN dalam Mencegah Ancaman Pandemi COVID-19
Ilustrasi pandemi corona. (Istimewa) (istockphoto.com)

AKURAT.CO, Saat pandemi COVID-19 melanda dunia di awal 2020, WHO telah mengirimkan misi pencarian fakta ke China untuk menemukan asal usul virus SARS-CoV-2. Misi tersebut berakhir pada 9 Februari 2021 dan memberikan beberapa kesimpulan yang telah diprediksi oleh banyak ahli. 

Mereka menyatakan bahwa kecil kemungkinan virus bocor dari laboratorium di Institut Virologi Wuhan. Virus kemungkinan besar berasal dari kelelawar. 

Penyelidikan lebih lanjut tentang evolusi virus di China bersama dengan negara-negara Asia Tenggara sekitarnya tidak membuktikan bahwa SARS -CoV-2 adalah virus buatan dan belum diketahui pasti virus tersebut berasal dari klaster pasar Huanan di Wuhan. 

Selain itu dalam ringkasan laporan, WHO juga menghargai upaya kesehatan masyarakat China untuk menahan virus tersebut dan menekankan bahwa contoh China dapat menjadi inspirasi bagi negara lain. Dari sudut pandang ilmiah, temuan WHO memvalidasi prediksi dan eksperimen yang telah dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah terkemuka, termasuk upaya sebelumnya untuk menganalisis data bioinformatika SARS-CoV-2. 

Kekhawatiran AS atas Data China 

Meski begitu, AS dan beberapa negara menunjukkan kekhawatiran atas laporan tersebut. Selain AS, ada Inggris, Australia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lithuania, Norwegia, Republik Korea, dan Slovenia yang memiliki keprihatinan sama. Kekhawatiran mereka terpusat pada kurangnya akses ke data asli, independensi tim, dan objektivitas rekomendasi. 

Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menekankan bahwa lebih banyak penelitian harus dirancang lebih lanjut karena diperlukan pembagian dan akses data yang lebih tepat waktu dan komprehensif. Perkembangan terakhir ini sebenarnya menunjukkan bahwa beberapa negara mengungkapkan ketidakpercayaan yang ekstrem terhadap semua data dan informasi yang diberikan oleh pihak China, dan juga bersikap kritis terhadap WHO yang menghargai langkah-langkah kesehatan masyarakat China. 

Perselisihan politik semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya karena selama perang dingin. Masalah kesehatan sebesar ini tidak pernah menjadi sengketa keras di forum PBB. 

Sewaktu WHO bekerja keras untuk mengakhiri pandemi cacar (smallpox) di tahun 70-80an, AS dan Uni Soviet bekerja sama dalam pengembangan dan penerapan vaksin walaupun saat itu perang dingin mencapai puncaknya. Para negarawan AS dan Soviet saat itu sadar bahwa pandemi cacar adalah musuh bersama yang harus diatasi bersama juga. Akhirnya, kerja sama tersebut berbuah positif dengan mendukung keberhasilan WHO mengeradikasi pandemi cacar untuk seterusnya. 

Menarik memperhatikan bahwa kerja sama dengan skala seperti itu belum terjadi antara AS dan China, dan mereka justru bergerak ke arah yang sebaliknya. Juga, bukan suatu kebetulan bahwa sikap kuat AS saat ini terhadap China dan WHO menyerupai kebijakan 'America First' mantan Presiden AS Donald Trump terhadap pihak-pihak yang sama yang menjadi titik balik ketidakpuasan China terhadap Barat.