News

Kepala Pilot Boeing Didakwa Atas Penipuan Terkait Kecelakaan Fatal Pesawat 737 Max Lion Air

Kepala Pilot Boeing Didakwa Atas Penipuan Terkait Kecelakaan Fatal Pesawat 737 Max Lion Air


Kepala Pilot Boeing Didakwa Atas Penipuan Terkait Kecelakaan Fatal Pesawat 737 Max Lion Air
Dua kecelakaan Boeing 737 Max itu telah menewaskan total 346 orang dan membuat Boeing anjlok dalam krisis. (Youtube)

AKURAT.CO, Juri agung federal Amerika Serikat (AS) mendakwa seorang mantan eksekutif Boeing atas tuduhan penipuan. Disebutkan bahwa terdakwa telah mengelebui Administrasi Penerbangan Federal (FAA) saat pertama kali mensertifikasi jet 737 Max.

Sementara diketahui, setelah sertifikasi itu, 737 Max mengalami dua kecelakaan fatal yang disebabkan oleh cacat desain. Kecelakaan itu adalah Lion Air penerbangan 610 pada 29 Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines penerbangan 302 pada 10 Maret 2019.

Diwartakan CNN, tuduhan itu adalah tuntutan pidana pertama terhadap seorang individu dalam penyelidikan penyebab dua kecelakaan Boeing 737 Max yang menewaskan total 346 orang dan menyebabkan perusahaan anjlok ke dalam krisis. Diketahui, akibat insiden itu, Boeing 737 Max dilarang terbang selama 20 bulan dan perusahaan akhirnya merugi lebih dari USD20 miliar (Rp281,8 triliun).

Namun, tuduhan itu bukan ditujukan untuk jajaran eksekutif puncak. Sebaliknya dakwaan dikenakan untuk melawan Mark Forkner, kepala pilot teknis Boeing selama proses sertifikasi untuk jet tersebut. Menurut dakwaan, Forkner yang kini berusia 49 tahun, dituduh menipu FAA demi 'menghemat uang' selama proses sertifikasi pada tahun 2016 dan 2017.

Dakwaan kemudian merinci bahwa dalam aksinya, Forkner menipu FAA tentang Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS). MCAS ini adalah parameter operasi fitur keselamatan yang dirancang untuk menghentikan pesawat agar tidak naik terlalu cepat dan mogok. 

Jika tanjakan curam terdeteksi, MCAS dirancang untuk menekan hidung jet. Namun dalam dua kecelakaan itu, hidung pesawat justru menjorok ke bawah ketika pesawat tidak naik, dan ini akhirnya menciptakan kegagalan yang menyebabkan dua kecelakaan fatal.

Surat dakwaan mengatakan Forkner memberi FAA informasi yang salah, tidak akurat, dan tidak lengkap tentang sistem tersebut.

Dikatakan pula bahwa Forkner menipu karena ingin memastikan bahwa FAA tidak menuntut pelatihan simulator untuk pilot yang akan menerbangkan 737 Max. Mengingat, pelatihan itu lebih mahal dan para pilot telah dilatih menerbangkan versi 737 sebelumnya. 

"Dalam upaya untuk menghemat uang Boeing, Forkner diduga menyembunyikan informasi penting dari regulator. Pilihannya yang tidak berperasaan itu untuk menyesatkan FAA dan menghambat kemampuan badan tersebut untuk melindungi penerbangan publik dan membuat pilot dalam kesulitan dan memperoleh informasi yang kurang soal kontrol penerbangan 737 Max. Departemen Kehakiman tidak akan mentolerir penipuan ini, terutama di industri di mana taruhannya begitu tinggi," kata Penjabat Jaksa AS Chad Meacham untuk Distrik Utara Texas, dalam sebuah pernyataan. 

Pengacara Forkner belum menanggapi permintaan komentar, dan Boeing telah menolak untuk memberi keterangan. 

Sementara pengacara Forkner dan Boeing diam, keluarga korban mengaku bahwa dakwaan itu belum cukup. Hal itu ikut diungkap oleh Nadia Milleron, ibu dari Samya Rose Stumo, yang tewas dalam kecelakaan fatal kedua pada Maret 2019.

"Forkner hanyalah seorang kambing hitam. Dia dan Boeing bertanggung jawab atas kematian semua orang yang tewas dalam kecelakaan Max. Dalam sistemnya, Boeing melihat keuntungan finansial jangka pendek alih-alih keselamatan, dan Mark Forkner beroperasi dalam sistem itu. Jaksa harusnya bisa menemukan sejumlah pihak lain yang juga ikut bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Setiap keluarga yang kehilangan seseorang dalam kecelakaan Max merasakan hal yang sama: para eksekutif dan dewan direksi Boeing harus masuk penjara," kata Milleron. []