News

Kepala Gereja Ortodoks Rusia Pendukung Invasi Ukraina Positif Covid-19

Kepala Gereja Ortodoks Rusia Pendukung Invasi Ukraina Positif Covid-19
Patriark Ortodoks Rusia Kirill menyampaikan Liturgi Natal di Katedral Kristus Sang Juru Selamat di Moskow, Rusia, Kamis, 6 Januari 2022 (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)

AKURAT.CO Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia yang kontroversial lantaran mendukung invasi ke Ukraina, dilaporkan terinfeksi Covid-19.

Sebagaimana diwartakan Reuters, Patriark Kirill dari Moskow, telah dites positif untuk virus corona, dengan layanan pers Gereja mengonfirmasi laporan ini pada Jumat (30/9).

Gereja mengatakan bahwa Kirill, yang berusia 75 tahun, telah membatalkan semua perjalanan dan acara yang direncanakannya. Diberikan pula alasan bahwa ia menderita 'gejala parah', yang membutuhkan istirahat di tempat tidur serta isolasi. Kendati demikian, imam gereja itu berada dalam kondisi 'memuaskan', menurut gereja.

baca juga:

Sempat Dukung Invasi, kini Kepala Gereja Ortodoks Rusia Positif Corona Bergejala Parah - Foto 1
 Vladimir Putin mengucapkan selamat kepada Patriark Gereja Ortodoks Rusia Kirill pada peringatan 13 tahun penobatannya di Moskow, Rusia, 1 Februari 2022- Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP

Kirill selama ini telah dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia telah terang-terangan menyatakan sikapnya untuk mendukung perang di Ukraina, sesuatu yang ditentang keras oleh sayap Ortodoksi lain, dan bahkan oleh Kepala Gereja Katolik Paus Fransiskus.

Beberapa waktu lalu, Kirill menyita perhatian setelah mengatakan bahwa tentara Rusia yang gugur saat perang melawan Ukraina akan terhapus dosa-dosanya.

Maret lalu, pemimpin kelompok agama dominan Rusia itu juga membenarkan invasi negaranya ke Ukraina. Seperti dilaporkan AP News, Kirill saat itu menggambarkan konflik sebagai bagian dari perjuangan melawan dosa dan tekanan dari orang asing liberal yang ingin mengadakan 'parade gay'.

Di bawah kepemimpinan Kirill, Gereja Ortodoks Rusia kini menjadi pemain politik yang kuat, mengantarkan perubahan negara itu menuju nilai-nilai sosial konservatif.[]