News

Kepala BPOM: Tindak Pidana Obat dan Makanan Merupakan Perkara Penting!


Kepala BPOM: Tindak Pidana Obat dan Makanan Merupakan
Perkara Penting!
Ilustrasi obat dan makanan (Foto: onegreenplanet.org) ()

AKURAT.CO, Turunnya nilai keekonomian temuan Obat dan Makanan ilegal di Indonesia dari 222,520 miliar rupiah pada tahun 2015 menjadi 209,615 miliar pada tahun 2016, tidak menunjukkan menurunnya tingkat kejahatan di bidang Obat dan Makanan.

Hasil analisis Badan POM justru menunjukkan bahwa kejahatan di bidang Obat dan Makanan semakin berkembang menggunakan modus baru yang mampu menyasar berbagai aspek, sehingga menciptakan dampak negatif secara masif baik langsung maupun jangka panjang terhadap aspek kesehatan, ekonomi, hingga sosial masyarakat.

Potensi ancaman kejahatan Obat dan Makanan di samping berdampak negatif terhadap kesehatan, juga berdampak terhadap ekonomi negara akibat hilangnya pemasukan pajak dan bea masuk serta menekan daya saing dunia usaha. Lebih jauh, potensi ini dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat termasuk ketahanan bangsa bila tidak dilakukan langkah antisipasi.

baca juga:

Untuk itu, Badan POM terus meningkatkan sinergi dengan semua pemangku kepentingan lainnya, utamanya dengan aparat penegak hukum seperti Kepolisian RI dan Kejaksaan Agung. Setelah menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Kepolisian RI pada tahun 2016 lalu, tahun ini Badan POM menandatangani Nota Kesepakatan dengan Kejaksaan RI terkait Kerja Sama Dan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Pelaksanaan Tugas Dan Fungsi.

â??Dengan adanya kesepakatan bersama ini, penanganan tindak pidana Obat dan Makanan dikategorikan sebagai Perkara Penting (PK-Ting)," kata Kepala Badan POM, Penny K. Lukito saat melakukan video conference Sosialisasi isi nota kesepakatan Kejaksaan Agung dengan Badan POM di Kantor Kejaksaan Agung, Selasa (14/03). 

Kepala Badan POM juga mengutarakan optimismenya, bahwa dengan adanya kesepakatan bersama ini, segala macam permasalahan terkait penegakan hukum bidang Obat dan Makanan baik yang bersifat teknis maupun non-teknis hendaknya dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih dengan dukungan penuh dari Kejaksaan Agung untuk memperkuat penegakan hukum di bidang pelanggaran Obat dan Makanan.

"Oleh karenanya dibutuhkan upaya dan kerja lebih giat dari Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM dalam mengungkap modus operandi, motif kejahatan, luas jaringan, serta aktor intelektual kejahatan ini dengan dukungan penuh aparat Kejaksaan di seluruh Indonesia," lanjutnya.

Selama tahun 2015 Badan POM menangani 211 perkara tindak pidana pelanggaran di bidang Obat dan Makanan, dimana 18 diantaranya telah mendapat putusan pengadilan. Putusan tertinggi adalah pidana penjara 2,5 tahun bagi pelaku yang mengedarkan kosmetik tanpa izin edar/ilegal di Serang, serta penjara 4 bulan 15 hari dan denda Rp50 juta subsider 1 bulan bagi pelaku yang mengedarkan obat tradisional (OT) ilegal di Makassar.

Sementara tahun 2016, Badan POM menangani 205 perkara tindak pidana pelanggaran di bidang Obat dan Makanan, dimana 29 diantaranya telah mendapat putusan pengadilan.Sharapova comeback di Stuttgart

Petenis cantik asal Rusia Maria Sharapova direncanakan comeback mengayun raketnya setelah selesai menjalani sanksi hukuman 15 bulan karena dugaan menggunakan doping. Mantan petenis nomor 1 dunia ini akan diberi wildcard agar dapat tampil di Stuttgart Grand Prix yang dimulai pada 24 April mendatang.

Hal itu dikonfirmasi oleh asosiasi tenis wanita (WTA). "juara lima kali Grand Slam Maria Sharapova telah memenuhi syarat untuk bermain di WTA turnamen pada hari Rabu, 26 April menyusul selesainya masa hukuman 15 bulan,� dikutip dari situs resmi WTA.

Hal ini mengundang kontroversi karena hukuman Maria Sharapova baru berakhir 2 hari setelah turnamen di Jerman ini dimulai. Petenis Polandia yang menempati peringkat 1 dunia Caroline Wozniacki mempertanyakan keputusan WTA yang dianggap tidak menghormati petenis lainnya.

"Saya pikir keputusan itu sangat dipertanyakan, sehingga - tidak peduli siapa itu - pemain yang masih menjalani hukuman dilarang untuk bermain di turnamen," kata Wozniacki. "Saya pikir itu tidak sopan kepada pemain lain dan WTA,�ujarnya lagi.

Namun pihak WTA segera memberikan pernyataan untuk menanggapi kontroversi ini. "Sesuai dengan WTA dan aturan Program Anti-Doping, Sharapova bisa berpartisipasi dalam sebuah turnamen di minggu saat masa hukumannya berakhir.�[]