Lifestyle

Kenapa Korban Pemerkosaan Bisa Ajukan Tindakan Aborsi?

Dikarenakan pemerkosaan menyebabkan trauma psikologis dan gangguan kesehatan jiwa, korban pemerkosaan bisa mengajukan aborsi dan hal ini legal


Kenapa Korban Pemerkosaan Bisa Ajukan Tindakan Aborsi?
Ilustrasi pemerkosaan (The Clinical Advisor)

AKURAT.CO Pemerkosaan dan kekerasan seksual jenis apa pun merupakan tindak kriminal yang bisa dialami siapa saja, baik itu perempuan maupun laki-laki.

Dikutip dari laman International Journal of Environmental Research and Public Health, sebuah studi menunjukkan bahwa kebanyakan kasus pemerkosaan dilakukan oleh orang yang dikenal korban, misalnya pasangan, mantan pasangan, kerabat, atau teman korban.

Dalam banyak kasus pemerkosaan, korban enggan untuk menceritakan hal yang dialaminya. Alasannya beragam, ada yang merasa malu, takut akan adanya pembalasan, hingga takut ceritanya tidak dipercaya oleh pihak penyidik dari Kepolisian maupun dari kelaurga sendiri. 

Oleh karena itu, tindakan pemerkosaan dapat mendatangkan trauma psikologis dan gangguan kesehatan jiwa bagi yang mengalaminya. Berikut ini beberapa trauma psikologis dan gangguan kesehatan jiwa yang bisa diidap korban pemerkosaan, dari berbagai sumber

Menyalahkan diri sendiri

Korban pemerkosaan mungkin merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri atas musibah yang dialaminya. Wanita yang menjadi korban kekerasan seksual misalnya, mungkin berpikir bahwa gaya pakaiannyalah yang mengundang pelaku memerkosanya.

Dilansir dari laman Psychology Today, hal tersebut membuat banyak korban memilih untuk bungkam dan memendam kejadian traumatis yang dialami. Ini sebenarnya tidak boleh sampai terjadi karena jika dibiarkan, korban berisiko untuk mengalami stres berat.

Gangguan PTSD

Dilansir dari laman Very Well Mind, korban pemerkosaan berisiko tinggi mengalami beberapa gangguan mental, seperti depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD) dan gangguan cemas.