Lifestyle

Kenali Sindrom Ripley, Gangguan Kepribadian yang Dialami Suzy Dalam Drama Anna

Sindrom Ripley mengacu pada gangguan kepribadian antisosial dimana seseorang menyangkal kenyataan dan hidup dalam kepalsuan


Kenali Sindrom Ripley, Gangguan Kepribadian yang Dialami Suzy Dalam Drama Anna
Bae Suzy - Mengenal Sindrom Ripley, gangguan kepribadian yang dialami Suzy dalam drama Anna (Istimewa)

AKURAT.CO, Drama Kora berjudul Anna yang diperankan oleh Bae Suzy tengah ramai diperbincangkan.

Drama ini bercerita tentang Yoo Mi yang diperankan oleh Suzy, kerap melakukan kebohongan kecil hingga mencoba menjalani hidup menjadi orang lain.

Selain itu, Yoo Mi juga merupakan penderita sindrom Ripley. Hal ini merupakan gangguan kepribadian dimana penderitanya menyangkal kenyataan dan memercayai semua kebohongan yang dibuatnya sendiri.

baca juga:

“Jika itu saya, saya rasa saya tidak akan bisa mengatasi kecemasan itu. Bahkan jika saya berbohong tentang masuk ke universitas, saya pikir saya akan kembali dan mengatakan yang sebenarnya,” ungkap Suzy, dilansir AKURAT.CO dari Soompi, Senin (4/7/2022).

"Jika depresi adalah keadaan perasaan lesu dan tidak mampu melakukan apa-apa, kecemasan dapat muncul lebih sering ketika seseorang mencoba untuk berbuat lebih banyak. Saya sampai pada kesimpulan bahwa kekuatan pendorong Yoo Mi adalah kecemasannya," ujar Suzy.

Untuk mendalami karakternya yang cukup menantang ini, Suzy pun mendapat banyak saran dari para ahli di bidangnya. 

Jika kamu menonton drama ini dan penasaran dengan sindrom Ripley, simak penjelasan berikut ini. 

Sindrom Ripley mengacu pada gangguan kepribadian antisosial di mana seseorang menyangkal kenyataan dan hidup dalam kepalsuan.

Istilah ini berasal dari novel 1955 "The Talented Mr. Ripley," yang menampilkan karakter Tom Ripley yang hidup dalam realitasnya sendiri yang terdistorsi dan melakukan kejahatan untuk keuntungannya sendiri. 

Karakter dalam novel yang tidak bahagia dengan hidupnya membunuh temannya yang kaya untuk menjalani hidupnya.

Dia berbohong dan melakukan kejahatan untuk menyembunyikan identitas aslinya. 

Berkat karakter Tom Ripley, istilah psikiatri dengan nama yang sama muncul. Sindrom ini juga disebut penyakit Ripley atau efek Ripley. 

Ripley menunjukkan adanya dissociative identity disorder (DID) atau  gangguan kepribadian dissosial.

Sindrom Ripley sendiri telah menjadi bahan studi psikopatologi sejak akhir abad ke-20. Penelitian pada tahun 1915 oleh Dr. Healy dan Dr. King menyebutkan bahwa sindrom Ripley ditemukan pada orang-orang yang menyangkal realitas dan percaya pada kebohongan mereka. 

Melansir Kyunghee International College (KIC The Globe), adapun penyebab utama dari sindrom Ripley adalah : 

  • Keinginan yang kuat untuk berprestasi/menang menghadapi masalah sosial dan struktural yang menghalangi untuk mencapai apa yang diinginkan dalam kenyataan. Mereka menderita kompleks inferioritas dan kerusakan karena ketidakmampuan untuk memenuhi harapan dan tekanan yang berlebihan.
  • Kekerasan fisik dan mental pada masa kanak-kanak atau kurangnya kasih sayang dari orang tua. Ketidakstabilan emosional yang berkepanjangan sejak masa kanak-kanak ini mendorong mereka untuk berbohong.

Meski banyak yang menganggap sindrom Ripley sebagai kebohongan biasa, faktanya kedua hal tersebut berbeda.

Kebohongan sering digunakan untuk menutupi kesalahan, dan pembohong takut ketahuan.

Sementara itu, orang dengan sindrom Ripley sepenuhnya percaya pada kebohongan yang diciptakannya.

Jika orang lain mengungkapkannya kebohongannya, penderita sindrom ini akan marah dan akan mengakui hal tersebut  sebagai kesalahpahaman.

Sindrom Ripley berbahaya karena mungkin tidak berakhir sebagai kebohongan sederhana. Ada risiko kerusakan finansial dan psikologis yang serius dan tidak boleh dibiarkan.[]