Ekonomi

Kenali 5 Trik Pemasaran yang Selalu Bikin Konsumen Tergiur Belanja

Berikut ini sejumlah trik marketing yang sering kali dipakai untuk memanipulasi konsumen.


Kenali 5 Trik Pemasaran yang Selalu Bikin Konsumen Tergiur Belanja
Sebuah toko yang menawarkan potongan harga di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Jumat (22/12). Jelang libur Natal dan Tahun Baru, beberapa retail atau brand-brand produk banyak menawarkan potongan harga yang besar. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menyambut tahun baru. (AKURAT.CO/Handaru M Putra)

AKURAT.CO Ada sejumlah trik marketing yang saat ini sudah banyak diketahui orang, tetapi tetap saja sejumlah orang berhasil dimanipulasi. Namun jika kamu bisa mengetahui lebih dalam trik marketing tersebut, kamu bisa memanfaatkannya dengan baik.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini sejumlah trik marketing yang sering kali dipakai untuk memanipulasi konsumen.

1. Harga coret

baca juga:

Trik ini bisa juga disebut sebagai harga pembanding. Dengan ditampilkannya daftar harga seperti harga per bulan vs harga setahun atau harga yang dicoret, konsumen akan berpikir bahwa dengan memilih produk tersebut, konsumen dapat berhemat lebih banyak. Padahal, bisa saja harga tersebut adalah harga normalnya.

2. Ilusi 99

Trik ini sudah sangat umum dipakai. Konsumen akan cenderung memilih harga dengan angka terendah, contohnya Rp199 daripada dengan angak lebih tinggi contohnya Rp200. Konsumen akan cenderung membulatkannya ke angka paling depan.

3. Persen diskon

Daripada menuliskan nominal, banyak diskon dituliskan persenannya. Sering kali ditemui dengan contoh: diskon 90% tapi maksimal Rp10 ribu. Konsumen akan sangat tergiur dengan diskon yang besar padahal potongannya memiliki nilai maksimal atau potongannya sebenarnya tidak seberapa.

4. Kelangkaan

Seringkali sebuah produk memiliki label ‘limited stock’, ‘stok terbatas', atau ‘stok terakhir’. Selain itu ada juga yang memberikan batas waktu tertentu seperti ‘tinggal 3 jam lagi’. Padahal produk tersebut masih tetap akan dijual setelahnya dengan harga yang sama.

5. Framing effect

Harga yang dicantumkan merupakan harga keseluruhan, tetapi diberi label tambahan. Contoh yang paling sering ditemui adalah harga Rp140 ribu gratis ongkir. Padahal harga bukunya Rp110 ribu dan ongkirnya Rp30 ribu.

Selain itu, ada juga marketing yang menggunakan pendekatan emosional dengan mengatakan bahwa produk tersebut mahal sehingga konsumen akan merasa bangga karena sudah bisa membelinya. Selain itu, ada juga trik marketing odd pricing, decoy pricing, hingga membuat layout toko sedemikian rupa. []