Ekonomi

Kenaikan Tarif Cukai Keberkahan Bagi IHT, Kok Bisa?

industri hasil tembakau (IHT) mengalami pertumbuhan positif ketika tarif cukai rokok naik


Kenaikan Tarif Cukai Keberkahan Bagi IHT, Kok Bisa?
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Akurat Solusi di Hotel Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (7/11/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengungkapkan industri hasil tembakau (IHT) mengalami pertumbuhan positif ketika tarif cukai rokok naik.

Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, jumlah IHT tahun 2018 sebanyak 743 perusahaan. Jumlah ini kemudian bertambah di tahun 2019 sebanyak 767 perusahaan meskipun tarif cukai rokok mengalami kenaikan yang signifikan yakni 23 persen.

“Di industri ternyata positif yang berkebalikan bahwa semakin tinggi kenaikan tarif hasilnya positif justru banyak industri yang mau. Meskipun kenaikan cukup tinggi pada 2019 juga memberikan berkah bagi perusahaan untuk bisa masuk. Ini peluang bagi perusahaan kecil menengah tentu ini tidak menggambarkan jumlah tenaga kerja tapi perusahaan,” katanya dalam webinar beberapa waktu lalu.

baca juga:

Menurut Tauhid, hal ini karena banyak peluang  bagi perusahaan ketika tarif semakin tinggi jarak antar tarif terendah dengan tertinggi cukup jauh.

Disisi lain, Tauhid melanjutkan, di masa pandemi justru banyak industri hasil tembakau (IHT) yang mulai bangkit. IHT pernah mengalami penurunan luar biasa pada 2011 tercatat sebanyak 1.154 perusahaan laku mengalami penurunan drastis di tahun 2015 menjadi 705 perusahaan.

Positifnya pertumbuhan IHT terbukti dari tahun 2020 jumlah IHT tercatat 865 perusahaan kemudian di tahun 2021 menjadi 867 perusahaan.

“Pada tahap transisi banyak perusahaan yang mulai megap-megap tapi mulai bertahan. Namun demikian kalau kita lihat ternyata pada fase pandemi justru banyak industri yang mulai bangkit. Ini menarik kenapa? di 2020 ada 865 perusahaan IHT dan 2021 ada 867,” jelasnya.

Disisi lain, terdapat dampak negatif dimana semakin tinggi tarif cukai terbukti semakin tinggi peredaran rokok ilegal.

Berdasarkan data tahun 2020, kenaikan tarif cukai menyebabkan presentase peredaran rokok ilegal sebesar 4,86 persen. Angka ini naik dari tahun 2019 yang sebesar 3,03 persen.

“Karena kalau terlalu tinggi tarif cukai, rokok ilegal akan naik. Bahwa jangan juga terlalu tinggi kalau rokok ilegalnya punya peluang banyak,” lanjutnya.

Sekadar informasi, Peneliti FEB Unpad, Wawan Hermawan menilai formulasi cukai rokok harus memiliki titik optimal agar prevelansi bisa ditekan, namun juga tak mengganggu penerimaan negara maupun industrinya.

" Variabel banyak, sebenarnya harus ada titik optimalnya, dari semua stakeholder sebenarnya ada angkanya berapa," katanya dalam webinar “Reformulasi Kebijakan Cukai Rokok dan Masa Depan Insutri Hasil Tembakau” yang diselenggarakan Akurat.co, Minggu (7/11/2021).

Ia mengatakan memang formulasi cukai selama ini harus memperhatikan angka optimalnya. Jika terlalu tinggi maka dikhawatirkan pendapatan cukai rokok semakin berkurang, namun prevelansi tetap tak menurun sebab alternatif rokok ilegal semakin dinikmati.[]