Ekonomi

Kenaikan Suku Bunga Acuan Bisa 'Membunuh' Momentum Pertumbuhan Ekonomi


Kenaikan Suku Bunga Acuan Bisa 'Membunuh' Momentum Pertumbuhan Ekonomi
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan pada bulan April justru akan kontraproduktif dengan momentum pertumbuhan ekonomi, meskipun tekanan eksternal semakin kencang menjelang kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS (Federal Reserve) pada Juni 2018. (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan pada bulan April justru akan kontraproduktif dengan momentum pertumbuhan ekonomi, meskipun tekanan eksternal semakin kencang menjelang kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS (Federal Reserve) pada Juni 2018.

"Oleh karena itu Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan 7-day Reverse Repo Rate pada level 4,25 persen, yang sudah berlangsung selama tujuh bulan terakhir. Karena kenaikan suku bunga akan 'overkill' dengan momentum pertumbuhan ekonomi yang berlangsung," ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur periode April 2018, Kamis malam (19/4).

Dody menyebutkan "penyesuaian" atau kenaikan suku bunga acuan saat ini tidak diperlukan, meskipun Bank Sentral terus menyoroti ketidakpastian di pasar keuangan global.

baca juga:

"BI tidak merasa perlu melakukan penyesuaian suku bunga. Dengan perhatian stabilitas tetap terjaga, kita dorong pertumbuhan," ujarnya.

Bank Sentral merasa percaya diri mengelola risiko stabilitas terutama dari domestik. Dalam keterangan resmi hasil Rapat Dewan Gubernur, bahkan Bank Sentral tidak menyiratkan kekhawatiran terhadap inflasi meskipun harga minyak dunia terus naik, dan pada Mei, Indonesia akan memasuki tren konsumsi tinggi karena Ramadhan.

"Kita sudah merekam semua tekanan, dan kita masih yakin inflasi di 3,5 persen plus minus satu persen," ujar dia.

Dody juga mengatakan meskipun impor terus naik dan melebarkan defisit transaksi berjalan, besarannya masih dalam rentang yang sehat. Kenaikan impor membuat Bank Sentral optimistis ekspansi swasta terus melaju, karena mayoritas impor adalah bahan baku dan barang modal.

"Meskipun transaksi berjalan defisitnya meningkat, itu masih dalam proyeksi kita di 2,1-2,5 persen PDB. Kita tidak menginginkan kenaikan suku bunga yang justru 'overkill' terhadap momentum pertumbuhan ekonomi," ujar dia.

BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 akan di 5,1-5,4 persen (yoy), dan 5,1 persen di triwulan I 2018.

Dengan tetapnya kebijakan suku bunga pada April 2018 ini, suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (Deposit Facility) juga tetap sebesar 3,5 persen dan penyediaan dana dari BI (Lending Facility) tetap 5 persen. []