Ekonomi

Kenaikan HPP Gula Percuma Tanpa Dibarengi Efisiensi Produksi

menaikkan Harga Pokok Petani (HPP) gula hanya merupakan solusi sementara jika tidak dibarengi peningkatan efisiensi produksi gula domestik.


Kenaikan HPP Gula Percuma Tanpa Dibarengi Efisiensi Produksi
Petani menaikkan tebu ke atas truk saat panen di kawasan Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/9). Petani tebu mengeluhkan rendahnya harga acuan gula petani atau harga pembelian pemerintah (HPP) pabrik gula sebesar Rp9.700 per kg yang dinilai masih di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP) sebesar Rp10.600 per kg. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/aww/17.)

AKURAT.CO  Usaha memperbaiki kesejahteraan petani dengan menaikkan Harga Pokok Petani (HPP) gula hanya merupakan solusi sementara jika tidak dibarengi peningkatan efisiensi produksi gula domestik.

“Wacana untuk menaikkan HPP gula harus dibarengi dengan upaya untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi gula domestik. Jika produksi mahal dan tidak efisien, kenaikan HPP hanya akan memberikan solusi sementara untuk kesejahteraan petani dan tidak menyelesaikan permasalahan yang lebih penting,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arumdriya Murwani lewat keterangan tertulisnya, Jumat (1/10/2021).

Pemerintah sebaiknya membantu petani dalam menciptakan proses produksi gula yang lebih efisien untuk membantu meningkatkan kualitas gula yang dihasilkan. Peningkatan kualitas gula akan memengaruhi daya saing, baik untuk diserap oleh pasar nasional maupun sebagai komoditas ekspor.

Kenaikan HPP ini dituntut petani tebu berdasarkan pada perkembangan terbaru biaya pokok produksi (BPP) tebu di tingkat mereka.

Ketimbang harus terus menerus mengubah HPP untuk menyesuaikan dengan BPP, pemerintah sebaiknya fokus kepada restrukturisasi biaya produksi industri gula.

Industri gula nasional saat ini didukung oleh pabrik-pabrik yang sudah tua dan tidak memiliki skala keekonomian yang optimal untuk memproduksi gula dalam harga yang terjangkau. Sehingga revitalisasi pabrik dan tindakan lain yang sifatnya membantu menurunkan biaya produksi industri gula harus lebih diutamakan. Hal ini dapat dilakukan lewat subsidi kepada petani, mekanisasi dan pelatihan praktik tanam yang baik.

Tingkat rendemen gula Indonesia pada tahun 2020 adalah 7,17%. Optimisasi kinerja pabrik gula dan peningkatan kualitas tebu domestik diperlukan agar tingkat rendemen gula naik dan meningkatkan produktivitas sektor gula nasional.

Untuk itu, pemerintah seharusnya terus mendorong revitalisasi pabrik gula agar secara tidak langsung dapat menjamin kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga gula dalam jangka panjang.

“Lebih lanjut, apabila konsisten menekuni jalan ini, produktivitas tebu pelan-pelan dapat ditingkatkan sehingga gula bisa menjadi komoditas ekspor dan menguntungkan Indonesia. Walaupun mungkin jalan menuju ke ranah tersebut masih panjang,” kata  Arumdriya.

Seperti diketahui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi berjanji untuk meningkatkan pendapatan petani tebu di sejumlah daerah. Sejumlah skenario tengah disiapkan termasuk usaha untuk merevisi Peraturan Menteri Perdagangan No. 42/2016 yang menetapkan harga pokok petani (HPP) sebesar Rp9.100 per kilogram.

Janji itu disampaikan Lutfi saat mengundang perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) untuk berdiskusi di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (28/9/2021). []