Ekonomi

Kenaikan Harga Rokok Tak Efektif Turunkan Prevalensi Merokok

Karena kenaikan harga rokok bukanlah faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan berhenti merokok. 


Kenaikan Harga Rokok Tak Efektif Turunkan Prevalensi Merokok
Sejumlah negara telah menerapkan larangan merokok yang ketat sejak tahun 2004 (BBC)

AKURAT.CO  Setiap tahun Cukai Hasil Tembakau (CHT) bisa dipastikan selalu naik. Argumentasi pemerintah bahwa dengan menaikan CHT akan mengurangi prevalensi merokok. Namun, argumentasi pemerintah bertolak belakang dengan fakta di lapangan. 

Hasil kajian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB-UB) menyatakan bahwa kenaikan harga rokok tidak efektif menurunkan angka prevalensi merokok karena kenaikan harga rokok bukanlah faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan berhenti merokok. 

Hal ini juga menunjukkan bahwa harga bukan merupakan faktor penyebab seseorang tetap merokok atau seseorang berhenti merokok. Kenaikan harga rokok akan menyebabkan perokok mencari alternatif rokok dengan harga yang lebih murah/terjangkau, salah satu alternatifnya adalah rokok ilegal.

Pandangan tersebut dikemukakan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Prof. Candra Fajri Ananda, Ph.D dalam forum group discussion daring yang diselenggarakan oleh PPKE FEB-UB bertajuk “Merajut Kebijakan di Sektor Industri Hasil Tembakau yang Berkeadilan”, belum lama ini. 

Prof. Candra Fajri Ananda mengatakan, merujuk hasil kajian PPKE FEB-UB terkait pola perilaku konsumen produk industri hasil tembakau (IHT) menunjukkan, sebagian besar (58,3%) perokok usia dewasa telah mengkonsumsi rokok dalam periode yang lama, yakni lebih dari 6 tahun. Di samping itu, para perokok tersebut juga telah memulai konsumsi rokok sejak usia dini (usia 10 – 17 tahun). 

“Kebiasaan merokok menjadi alasan utama seseorang tetap merokok di usia dewasa (≥ 18 tahun). Hasil survey juga menunjukkan bahwa 86,5% perokok tidak akan berhenti merokok meskipun harga rokok naik. Hal itu terjadi karena merokok telah menjadi kebiasaan bagi 76,4% responden dengan periode merokok > 6 tahun, dan merokok dibutuhkan untuk mengatasi tekanan psikologis (stress) bagi 9,6% perokok di Indonesia,” terang Candra dalam keterangan resmi, Jumat (24/9/2021).

Prof. Candra Fajri Ananda juga mengemukakan, hasil statistik dengan merujuk hasil survey di lapangan terhadap 1.050 responden menunjukkan bahwa faktor dominan penyebab seseorang memutuskan untuk mengkonsumsi rokok di usia dewasa diantaranya: (1) tingkat kebiasaan; (2) pengaruh teman / lingkungan sekitar rumah; dan (3) tekanan psikologis (stres). 

“Hasil analisis statistik kami menunjukkan bahwa ternyata harga rokok tidak efektif menyebabkan seseorang berhenti merokok. Begitu juga iklan dan lingkungan keluarga,” kata Candra. 

Oleh karena itu, PPKE FEB-UB merekomendasikan agar pemerintah perlu jalan lain dalam menekan prevelansi merokok.