Ekonomi

Kenaikan Harga BBM Jadi Penyumbang Inflasi September 2022

Kenaikan Harga BBM Jadi Penyumbang Inflasi September 2022
Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, Rabu (1/8/2018). (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyampaikan bahwa Inflasi September 2022 yang mencapai 1,17 persen berasal dari sektor transportasi.

"Inflasi September 2022 menurut kelompok pengeluaran yang dibagi menjadi 11 kelompok pengeluaran pendorong utama terjadi di kelompok pengeluaran untuk sektor tranportasi dimana sektor tersebut mencapai 8,88 persen dan memberikan andil kepada inflasi September 2022 sebesar 1,08 persen Month to Mont (MtM)," ucapnya pada saat konferensi pers di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Beruntungnya, lanjut Margo, kenaikan inflasi di sektor transportasi dapat diredam oleh kelompok pengeluaran sektor Makanan, Minuman dan Tembakau, dimana di sektor tersebut terjadi deflasi mencapai 0,30 persen atau memberikan andil kepada Inflasi di September 2022 sebesar -0,08 persen.

baca juga:

"Oleh karenai itu inflasi sebesar 1,17 persen di Bulan September dominan didorong oleh kenaikan sektor transportasi, namun mampu diredam karena dikelompok mamin dan tembakau terjadi deflasi," ucapnya kembali.

Jika kita dalami lebih rinci lagi, tambahnya, sektor transportasi yang paling dominan adalah kenaikan harga bensin dimana memberikan andil cukup besar sebanyak 0,89 persen (MtM), lalu disusul oleh Angkutan Dalam Kota sebesar 0,09 (MtM), kenaikan harga Solar sebesar 0,03 persen, Angkutan Antar Kota sebesar 0,03, Tarif Kendaraan Roda 2 Online sebesar 0,02 persen dan yang terakhir adalah Tarif Kendaraan Roda 4 Online sebesar 0,01 persen.

"Tidak cukup jika hanya merincikan penyumbang inflasi dari sektor Transportasi. Maka berbicara mengenai deflasi untuk kelompok sektor makanan, minuman dan tembakau pada September 2022, komoditas yang mengalami deflasi dan memberikan andil besar kepada deflasi di bulan September adalah bawang merah dengan capaian -0,06 (mtm)," ucapnya. 

Kemudian, paparnya kembali, diikuti oleh komoditas cabai merah sebesar -0,05 persen, minyak goreng -0,03 persen, tomat -0,02 persen, cabai rawit sebesar -0,02 persen dan yang terakhir ikan segara mencapai -0,01 persen.[]