Rahmah

Kena Mental, Penyair Itu Dibuat Mingkem Setelah Ejek Abu Nawas

Diketahui ada seorang penyair dengan terang-terangan mencaci, mengejek, serta menghina Abu Nawas.


Kena Mental, Penyair Itu Dibuat Mingkem Setelah Ejek Abu Nawas
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Dikisahkan ada seorang penyair dengan terang-terangan mencaci, mengejek, serta menghina Abu Nawas. Ia melakukan perbuatan tidak terpuji itu di belakang Abu Nawas.  

Karena peristiwa itu viral di desa setempat, akhirnya sampailah di telinga Abu Nawas. Kali ini Abu Nawas akan menyusun rencana yang matang untuk menyikapi si penyair itu.

Hingga pada suatu hari, terdapat sebuah perayaan di desa itu. Acara itu dihadiri oleh tokoh masyarakat setempat, dimulai dari pejabat kerajaan, menteri, sastrawan, hingga para penyair turut serta meramaikan acara tersebut. Dengan demikian, Abu Nawas dan penyair itu akhirnya bertemu dalam satu forum.

Ketika keduanya bertemu, Abu Nawas mengawali pembicaraannya, ia bertanya kepada penyair itu, "Wahai saudaraku, apa kau kira cacian, ejekan serta hinaan yang ditujukan kepadaku itu merugiganku?Apa kau kira namaku akan redup? Apa kau kira anakku akan mati mendengar cacianmu?" sergah Abu Nawas bertanya

"Tidak," jawab si penyair dengan singkat. 

"Apakah rumahku akan hancur setelah mendengar cacian darimu?" tanya Abu Nawas lagi. 

"Tidak," jawab si penyair seperti jawaban pertama.

"Lantas, selagi kakiku ini masih menopang badanku, cacianmu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku, sampai kapanpun dan bagaimanapun juga," tegas Abu Nawas. 

Kali ini penyair itu mulai tersulut dengan pertanyaan yang dilontarkan Abu Nawas. 

"Wah, sombong sekali engkau ini. Sebenarnya kau ini mau apa Abu Nawas?" ucap si penyair mulai kesal. 

"Aku hanya ingin melihat apa yang engkau bisa lakukan di depanku setelah ini?" ucap Abu Nawas dengan santai. 

Mendengar pernyataan Abu Nawas, membuat para tamu undangan yang hadir tertawa. Dengan demikian, si penyair itu terserang mentalnya dan lidahnya sepertinya tercekat tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam karena merasa salah atas perbuatan yang selama ini ia lakukan kepada Abu Nawas.

Gemuruh tawa dari orang-orang sekitar membuat kekalahannya semakin telak di hadapan Abu Nawas. Atas kejadian itu, si penyair sudah tidak lagi menghina Abu Nawas. Ia justru berbuat baik kepada Abu Nawas dan orang-orang sekitar. []