Ekonomi

Kementerian ESDM: Kenaikan Tarif Listrik Picu Inflasi 0,19 persen

Kebijakan tarif listrik ini dikatakan dapat menghemat kompensasi Rp3,1 triliun atau 4,7 persen dari keseluruhan kompensasi kepada PLN.


Kementerian ESDM: Kenaikan Tarif Listrik Picu Inflasi 0,19 persen
Ilustrasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) (Dok. Kementerian ESDM)

AKURAT.CO, Pemerintah pada hari ini resmi mengumumkan kenaikan tarfi listrik pelanggan rumah tangga nonsubsidi golongan 3500 VA keatas dan golongan pemerintah yang mulai diterapkan pada 1 Juli 2022 mendatang.

Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan kebijakan menaikkan tarif listrik itu hanya berdampak terhadap inflasi sebesar 0,019 persen.

"Kami sudah hitung dampaknya terhadap inflasi hanya 0,019 persen, jadi hampir tidak terasa," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (13/6/2022).

baca juga:

Rida mengatakan, penyesuaian tarif listrik ini masih ada kontribusi dalam menjaga daya beli masyarakat secara menyeluruh, karena pemerintah saat ini hanya menaikan tarif listrik golongan rumah tangga yang menyasar pada golongan ekonomi kelas menengah atau mewah.

Kebijakan tarif listrik ini dikatakan dapat menghemat kompensasi sebesar Rp3,1 triliun atau 4,7 persen dari keseluruhan kompensasi yang pemerintah berikan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Pemerintah memutuskan menaikkan tarif listrik karena empat indikator ekonomi makro mengalami peningkatan, terutama harga minyak mentah dunia yang tinggi, sehingga meningkatkan beban produksi listrik.

Dilain sisi, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan setiap kenaikan USD 1 dari harga minyak mentah dunia berdampak terhadap biaya pokok produksi secara keseluruhan hingga Rp500 miliar.

"Asumsi APBN di awal tahun ini hanya USD 63 per barel dari harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini yang sudah mendekati hampir USD 100 per barel. Jadi ada peningkatan luar biasa, tentu saja biaya pokok produksi juga meningkat," ujar Darmawan.

Mengutip dari Antara, kebijakan untuk menaikan tarif listrik ini hanya diberlakukan kepada rumah tangga mewah yang berjumlah 2,09 juta pelanggan atau 2,5 persen dari total pelanggan PLN yang mencapai 83,1 juta dan juga kepada golongan pemerintah yang berjumlah 373 ribu pelanggan atau 0,5 persen.

Angka pelanggan rumah tangga nonsubsidi berdaya 3.500 VA tercatat sebanyak 1,7 juta pelanggan dan rumah tangga berdaya 6.600 VA ada sebanyak 316 ribu pelanggan dengan tarif yang disesuaikan dari Rp1.444,7 per kilowatt jam (kWh) menjadi Rp1.699,53 per kWh.

Sedangkan pelanggan pemerintah dengan daya 6.600 VA hingga 200 kilovolt ampere (kVA) tarifnya juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp1.444,7 kWh menjadi Rp 1.699,53 per kWh. Adapun pelanggan pemerintah dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp1.114,74 kWh menjadi Rp1.522,88 kWh.[]

Sumber: Antara