Ekonomi

Kementerian ESDM Dukung Penerapan Tarif Royalti Timah Progresif

Namun demikian, kenaikan tarif akan didiskusikan lebih lanjut dengan para pelaku usaha, agar menguntungkan kedua belah pihak.


Kementerian ESDM Dukung Penerapan Tarif Royalti Timah Progresif
Kapal pengangkut Timah dan BBM ilegal yang berhasil diamankan Bakamla RI di Perairan Bangka Belitung (Dok. Puspen TNI)

AKURAT.CO, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus melakukan pembenahan tata kelola niaga timah di Indonesia, salah satunya dengan mendukung penerapan tarif royalti yang bakal dikenakan secara progresif.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan dinamika harga timah di pasar internasional menjadi salah satu alasan pemerintah untuk menaikkan tarif royalti komoditas tersebut.

"Kementerian ESDM mendukung usulan untuk menaikkan tarif royalti timah, dimana kenaikannya akan komprehensif atau tidak flat tergantung harga penjualan," jelas Ridwan dalam Rapat Dengar Pendapat Bersama Komisi VII, Selasa (21/6/2022).

baca juga:

Namun demikian, kenaikan tarif akan didiskusikan lebih lanjut dengan para pelaku usaha, agar menguntungkan kedua belah pihak. Sehingga diharapkan penerimaan negara dari komoditas timah juga meningkat.

Seperti diketahui rata-rata harga Timah Murni Batangan tahun 2015-2022 sebesar US$ 22.693/ton.

Saat ini  tarif royalti timah yang berlaku saat ini berdasarkan PP No 81 Tahun 2019 adalah flat sebesar 3%.

Ridwan mengungkapkan realisasi terbaru produksi industri timah. Ia menambahkan, sampai saat ini realisasi produksi timah tahun 2022 baru 9,65 ribu ton per Mei 2022. Dimana masih jauh dari rencana produksi timah di tahun ini sebesar 70 ribu ton logam timah.

"Produksi timah di tahun 2022 yaitu sebesar 70 ribu ton logam timah dengan realisasi produksi pada Mei 2022 adalah 9,65 ribu ton," kata Ridwan saat RDP dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (21/6/2022).

Ia mengungkapkan, sebanyak 98 persen produksi logam timah Indonesia masih diekspor. Pada tahun 2021, realisasi produksi logam timah mencapai 34,61 ribu ton, hanya 3,19 ribu ton yang dapat diserap dalam negeri.

"Logam timah hasil pertambangan memang diizinkan untuk diekspor namun harus memenuhi batasan minimum pengolahan dan pemurnian yaitu 99,9 persen (kandungan timah)," pungkasnya.[]