Ekonomi

Kementerian ESDM Buka Peluang Investasi PLTS Atap, Begini Mekanismenya!

Kementerian ESDM: jika yang hendak memasang PLTS merupakan pelanggan PLN, maka harus dipasangkan oleh PLN itu sendiri jadi tidak bisa dijual lagi.


Kementerian ESDM Buka Peluang Investasi PLTS Atap, Begini Mekanismenya!
Petugas melakukan perawatan rutin pada instalasi suply listrik tenaga surya di Gedung Muhammadiyah Jakarta, Rabu (31/7/2019). PLN berencana untuk penyediaan tenaga listrik (RUPTL) dengan potensi tiga gigawatt untuk Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan menargetkan pengembangan lebih dari 1000 Megawatt yang terdiri dari inisiasi swasta serta inisiasi oleh PLN. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap sejumlah potensi investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan potensi pertama yang dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi adalah dengan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap (PLTS Atap).

“Jadi ini PLTS tapi di pasang di atap. Dipasang oleh konsumen, bukan badan usaha,” kata Dadan Kusdiana dalam acara Indonesia Economic Outlook 2022 secara virtual, Rabu (26/1/2022).

baca juga:

Ia menambahkan jika yang hendak memasang PLTS merupakan pelanggan PLN, maka harus dipasangkan oleh PLN itu sendiri. Hal itu supaya pelanggan PLTS tidak bisa menjual listrik tersebut ke konsumen lainnya.

Dijelaskan Dadan, konsep ini merupakan inisiatif dari para konsumen yang hendak memasang PLTS Atap. Nantinya arus listrik tersebut akan dilakukan net metering.

Net metering merupakan suatu sistem yang ditujukan bagi konsumen PLN yang memiliki PLTS untuk mengirim listrik yang dihasilkan PLTS ke jaringan PLN. Sistem ini memungkingkan listrik yang dihasilkan oleh PLTS milik pelanggan dapat dikirim ke jaringan listrik PLN.

“Jadi tidak ada transaksi, tidak ada jual beli, tidak ada nilai Rupiah yang ditransaksikan di sini. Ini adalah net metering yang nanti hanya angka saja di situ yang dihitung,” ujarnya.

Selain PLTS Atap skala kecil, pemerintah juga mengembangkan PLTS berskala besar yang nantinya akan dimanfaatkan secara luas untuk masyarakat.

Pemerintah telah menyiapkan satu proyek PLTS terapung yang saat ini dibangun di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat. PLTS itu nantinya akan menghasilkan tenaga listrik sebesar 145 Megawatt. “Kita ingin mengembangkan dalam jangka pendek ini untuk pembangkit-pembangkit skala tersebut, baik itu PLTS terapung maupun juga yang di atas tanah secara langsung,” tutur Dadan.

Untuk diketahui, Pemerintah telah resmi menerbitkan aturan baru terkait PLTS Atap. Aturan baru ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap yang Terhubung Pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum (IUPTLU).

Peraturan ini juga terbit untuk merespons dinamika yang ada dan memfasilitasi keinginan masyarakat untuk mendapatkan listrik dari sumber energi terbarukan, termasuk mengakomodasi masyarakat yang ingin berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca.

“Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021 tentang PLTS Atap ini dapat dilaksanakan dan telah didukung oleh seluruh stakeholder sesuai hasil rapat koordinasi yang dipimpin oleh Bapak Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 18 Januari 2022,” kata Dadan lewat siaran pers Minggu, (23/1/2022).

Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, target PLTS Atap sebesar 3,6 Gigawatt yang akan dilakukan secara bertahap hingga 2025 akan berdampak positif.

Potensi serapan tenaga kerja dalam pembangunan fisik PLTS Atap ini ditaksir mencapai 121 ribu orang lebih dan berpotensi meningkatkan investasi sebesar Rp45 triliun hingga Rp63,7 triliun. Adapun pembangunan fisik PLTS Atap ini diproyeksikan bisa menghasilkan pengadaan kWh Exim sebesar Rp2,04 triliun sampai dengan Rp4,1 triliun.[]