Ekonomi

Kementan Sebut Sagu Jadi Pangan Alternatif Saat Perubahan Iklim


Kementan Sebut Sagu Jadi Pangan Alternatif Saat Perubahan Iklim
Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto saat ditemui di ruangan Kantor Dirjen Hortikultura Kementan, Jakarta, Selasa (13/8/2019). (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)

AKURAT.CO Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia Prihasto Setyanto mengatakan bahwa sagu bisa menjadi pangan alternatif saat menghadapi perubahan iklim.

"Sagu ini adalah sumber karbohidrat pengganti beras dan ini potensinya luar biasa karena sagu ini dapat bertahan terhadap perubahan iklim," kata Prihasto, di Kendari, Sabtu, (26/10)

Menurut Prihasto, sagu merupakan sumber karbohidrat yang potensinya besar dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

"Sagu salah satu sumber karbohidrat yang potensinya di Indonesia luar biasa begitu besar. Ada di Papua, di Sulawesi, di Kalimantan dan di Sumatera. Ini adalah sumber karbohidrat pengganti beras," katanya seperi dilansir dari Antara (26/10).

Selain itu, Prihasto mengungkapkan bahwa sagu salah satu tanaman pangan yang dapat tumbuh di berbagai tempat, mulai di daerah rawa, hingga tanah kering, tanaman itu dapat tumbuh dengan subur.

"Nanti dari badan Litbang Pertanian Kementan akan menampilkan berbagi macam produk olahan sagu di HPS, serta teknologi yang digunakan untuk pengolahan sagu akan ditampilkan, dan mudah-mudahan ada pelaku usaha, pelaku industri untuk tertarik mengembangkan usaha sagu," ujarnya.

Seperti diketahui  Sagu menajdi ikon hari pangan sedunia (HPS) 2019  yang diperingati di Kendari pada 2-5 November 2019. Sagu identik dengan panganan pokok masyarakat timur Indonesia. Masyarakat Suku Tolaki mengenalnya dengan nama Sinonggi, yakni bubur dari sari pati sagu.

Masakan serupa di Sulawesi Selatan dikenal dengan sebutan kapurung, sementara di Maluku disebut Papeda. Meski bentuknya sama, cara sajiannya berbeda satu sama lain.

Tidak hanya sinonggi, aneka panganan lokal berbahan dasar  sagu akan disuguhkan bagi para tamu HPS nanti. Bahkan akan menjadi ikon pada pagelaran tahunan itu. Anton menilai, sagu menjadi sumber karbohidrat potensial untuk dikembangkan, termasuk pengembangan pasca panen sagu.

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan pada 2018, Sulawesi Tenggara memiliki 5105 hektare dengan produktivitas 2795 ton tepung sagu. Tanaman sagu di Sulawesi Tenggara tumbuh alami. Sagu yang dikembangkan di wilayah ini ada dua jenia, yakni sagu rui atau pohonnya berduri dan sagu roe yang pohonnya tidak memiliki duri.

Untuk satu batang pohon sagu ukuran 10 meter, menghasilkan sagu basah sebanyak 595 kg. Apabila sudah menjadi sagu kering akan terjadi penyusutan sebanyak 40 persen atau sekitar 357 kg. Harga sagu basah per karung berukuran 17 kg senilai Rp 60 ribu.[]

Sumber: Antara