Ekonomi

Kementan Pertebal Status Kabupaten Buol Sebagai Sentra Jagung

Berkat implementasi teknologi yang diterapkan READSI Kementan, panenan Jagung meledak hingga 330 persen


Kementan Pertebal Status Kabupaten Buol Sebagai Sentra Jagung
Ilustrasi petani jagung (ANTARA FOTO)

AKURAT.CO Program Rural Empowerment Agricultural and Development Scalling Up Initiative (READSI) Kementan Pertebal Buol, Sulawesi Tengah, sebagai sentra Jagung. Berkat implementasi teknologi yang diterapkan READSI Kementan, panenan Jagung meledak hingga 330 persen. Petani pun semakin untung karena READSI Kementan juga memberikan bantuan saprodi selain pelatihan.

“Kementerian Pertanian mendorong kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk mendukung kegiatan Pertanian. Kita juga akan pastikan produksi bahan pangan pengganti nasi seperti jagung cukup sesuai kebutuhan bulanan. Pertanian Indonesia tidak boleh melemah, harusnya meningkat. Dalam keadaan apapun pertanian kita harus tangguh,” tegas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam keterangan persnya, Sabtu (31/7/2021). 

Mewujudkan ketahanan dan variasi pangan, READSI Kementan pun mendorong produktivitas Jagung. Apalagi, Mentan SYL menargetkan produksi Jagung tahun 2021 mencapai 22,5 Juta Ton. Target besar tersebut dihasilkan dari luas tanam Jagung 4,2 juta Ha. Adapun luas panennya mencapai 4,1 Juta Ton dengan jumlah produktivitas mencapai  5,4 Ton per Ha. Dan, Buol menjadi salah satu pilarnya.

"Petani harus memastikan kalau produksinya tidak turun. Jadi, tetia diupayakan berjalan sesuai rencana. Agar semuanya semakin optimal, maka diperlukan sinergi dengan pemerintah daerah. Sebab, pemerintah daerah penting dalam mendukung program.dan arahan untuk menunjang ketahanan pangan," kata SYL.

Menggulirkan program READSI, Buol berhasil meningkatkan produktivitas Jagungnya hingga 330% per Hektar. Saat ini dalam 1 Hektar lahan Jagung mampu memproduksi 6,6 Ton. Dalam kondisi sebelum program READSI masuk, petani hanya mampu menghasilkan produksi Jagung 2 Ton per Hektar. "READSI memberikan banyak inovasi melalui penguatan sumber daya manusianya," tegas SYL lagi.

Dengan meningkatnya produktivitas, otomatis *pendapatan petani* juga ikut melejit. Mengacu hasil panen tersebut, rekening petani Jagung di Buol semakin tebal. Kini per Hektar lahan Jagung dengan treatment READSI Kementan mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp31,02 Juta. Bandingkan dengan income petani Jagung sebelumnya yang hanya Rp9,4 Juta per Hektar.

"Melalui READSI, Kementan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh kegiatan yang berkaitan dengan usaha pertanian. Sebab, ketahanan pangan harus terwujud secepatnya. Apalagi, kondisinya saat ini sedang pandemi Covid-19. Pertanian menjadi kunci penting dalam *mendukung* pemulihan ekonomi," papar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

Mengoptimalkan usahatani Jagung, beragam dukungan dialirkan READSI Kementan. Untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pertanian di Buol, READSI *menggelar* program Sekokah Lapang. Kegiatan usahatani juga semakin optimal dengan bantuan sarana produksi. Hasilnya, usahatani Jagung di Buol semakin efektif dan efisien dengan manfaat ekonomi besar bagi petani.

"SDM menjadi kunci utama dalam menaikkan produktivitas pertanian. Kalau SDM-nya berkualitas, ada banyak inovasi yang dihasilkan sehingga sangat bagus bagi hasil pertanian. Selain kuantitas, kualitas produk pertanian yang dihasilkan hasilkan juga sangat positif," kata Dedi.

Mendorong produksi Jagung, panen raya sudah dilakukan pada beberapa hari lalu. Panen tersebut dilaksanakan di Desa Langudon, Kecamatan Boka, Buol. Mereka sangat terbantu dengan kehadiran program READSI Kementan.

"READSI banyak memberikan harapan bagi petani karena berhasil meningkatkan produktivitas Jagung. Dengan modal benih 12 Kg, hasil panenan mencapai 6,6 Ton per Hektar. Kesejahteraan petani tentu semakin bagus. Terima kasih READSI, terima kasih Kementan," tutup Penyuluh Pertania  Langudon Eko Ismiyanto.[TIM]