Ekonomi

Kementan Pastikan Hewan Kurban yang Beredar Hanya dari Zona Hijau Penyakit Mulut dan Kuku

Kementan Pastikan Hewan Kurban yang Beredar Hanya dari Zona Hijau Penyakit Mulut dan Kuku
Pekerja menggiring sapi Bali ke atas truk untuk dikirim ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Denpasar di Pasar Hewan Beringkit, Badung, Bali, Minggu (3/7/2022). (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

AKURAT.CO, Pemerintah memastikan hewan ternak yang beredar di Indonesia saat ini hanya berasal dari zona hijau wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) demi menekan penyebaran penyakit itu.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri mengatakan hewan ternak yang ada di zona merah tidak boleh melintas dan lalu lalang, serta dalam pengawasan ketat petugas Kementerian Pertanian dan Satgas PMK.

"Penanganan PMK oleh pemerintah sudah masuk fase vaksinasi dan kita berharap PMK bisa kami atasi segera. Kami ingin sampaikan, Insyaallah Idul Qurban tahun ini bisa kita lalui dengan baik," kata Kuntoro dalam keterangan resminya, Jumat (8/7/2022). 

baca juga:

Kemudian, pemerintah juga memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat dalam kondisi sehat, serta hewan yang dikirim merupakan dari daerah sentra yang sudah mendapatkan tindakan karantina untuk memastikan sapi sehat, aman dan bebas PMK.Selain itu ternak juga telah memiliki Sertifikat Kesehatan Hewan (SKH) dari Badan Karantina Daerah.

Kementerian Pertanian mencatat kebutuhan hewan kurban untuk Idul Adha mencapai 1,8 juta ekor atau meningkat 11 sampai 13 persen dibanding tahun sebelumnya dan dipenuhi dari sentran ternak zona hijau PMK.

"Insya Allah bisa dipenuhi dari sentra ternak yang ada di zona hijau," lanjut Kuntoro.

Dilain sisi, Direktur Kesehatan Masyarakat Veterinar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syamsul Ma'rif mengatakan bahwa setiap penyembelihan hewan kurban harus memerhatikan instruksi dan arahan dari petugas kesehatan hewan, termasuk pada saat daging kurban akan dibagikan.

Nantinya petugas akan mulai menentukan apa hewan ternak tersebut layak atau tidak untuk dijadikan hewan kurban, dan kalau ditemuknan adanya sakit berat, Syamsul mengatakan untuk tidak dipotong terlebih dulu untuk ketentraman batin hewan.

Selain itu, Syamsul juga memberikan penyuluhan soal masyarakat yang nantinya menrima daging kurban, dimana mereka harus peka terhadap kebersihan sekitar. Ketika telah mendapatkan daging juga sebiaknya harus disimpan di kulkas selama 24 jam dan kemudian dipindahkan ke freezer.

"Atau bisa langsung direbus sekalian. Jangan dicuci dulu. Kemudian, begitu mendapatkan daging, plastiknya jangan dibuang sembarangan, kalau bisa rendam dulu dengan detergen atau disinfektan," pungkasnya.[]