Ekonomi

Kementan Dorong Petani Manfaatkan Varietas Hibrida untuk Tingkatkan Produktivitas Jagung

Benih varietas hibrida memiliki kandungan vitamin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung biasa


Kementan Dorong Petani Manfaatkan Varietas Hibrida untuk Tingkatkan Produktivitas Jagung
Panen jagung (Kementan)

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong petani jagung menggunakan benih varietas unggulan, seperti hibrida. Karena kandungan vitamin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung biasa, sehingga bisa dijadikan alternatif pemenuhan karbohidrat atau makanan pokok masyarakat.

Keunggulan jagung hibrida ini disampaikan dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 26, Jumat (23/07/2021) di Ruang AOR. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebutkan bahwa kebutuhan jagung dalam negeri perlu mendapat jaminan, sehingga terpenuhi peningkatan volume ekspor. 

"Saat ini, beberapa sentra penghasil jagung sudah mencapai target produktivitas sekitar 8-9 ton/ha, walaupun rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini masih sekitar 6,4 ton/ha," jelasnya.

Selain itu, peran penting komoditas jagung diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani. 

“Kandungan gizi pada jagung tidak kalah dibandingkan dengan beras. Bahkan, kandungan serat dan beta karoten yang terdapat pada jagung lebih tinggi daripada beras,” ujar Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penytuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, yang mengikuti MSPP secara virtual, menyampaikan jika dengan mengkonsumsi pangan lokal, berarti meningkatkan pendapatan petani di Indonesia. 

"Selain imunitas meningkat, dengan mengkonsumsi pangan lokal, kita juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan membuat petani indonesia meningkat imunnya," ujarnya.

Dedi mengatakan, dengan pangan lokal, kesehatan bisa terjaga dan petani dapat tersenyum. Jagung tidak akan impor dalam beberapa tahun ini dan diharapkan akan ekspor ke luar negeri khususnya Asia Tenggara. Implementasikan di masing-masing daerahnya.

“Harus ada peningkatan produktivitas jagung, jangan sampai stagnan. Lebih baik kita  menjual dalam bentuk pakan ternak, tidak hanya jagung yang dipipil”, tegas Dedi.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, Muhammad Azrai, yang menjadi Narasumber MSPP, menjelaskan bahwa varietas jagung hibrida Kementerian Pertanian terdiri atas beberapa generasi. Diantaranya generasi semar 1-10 IETAS, generasi Bima 1-20, generasi HJ 21, HJ 22 dan HJ 28 serta generasi NASA 29, JH 234, JH 27-32, JH 36, JH 45, JHARING 1, JHANA 1 dan JHG.

"Pemberian pupuk berbeda antar lokasi dan jenis jagung yang digunakan. Dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik maka kesuburan tanah akan berkesinambungan. Rekomendasi pupuk untuk memperoleh hasil tinggi adalah 350-400 kg urea + 300 kg pupuk majemuk (phonska atau NPK pelangi)," terang Azrai.

Selain itu, pupuk organik juga dapat diaplikasikan sebagai penutup lubang tanam benih dengan takaran 1-2 ton/ha atau 1 genggam/lubang. Inovasi teknologi merupakan kunci utama keberhasilan budidaya yang terdiri dari varietas unggul, benih sumber, teknologi budidaya yang efisien spesialisasi lokasi dan panen/pascapanen. 

Dalam pemilihan varietas harus menggunakan benih yang bersertifikat dengan memperhatikan potensi hasilnya, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, umur tanaman, ketahanan hama atau penyakit, daun tetap hijau pada saat masak fisiologis, warna biji dan disenangi baik petani maupun pedagang.

“Kunci utama untuk memaksimalkan produktivitas jagung adalah dengan cara penggunaan varietas jagung hibrida berpotensi hasil tinggi, penggunaan benih bersertifikat dengan daya tumbuh lebih dari 90%, gunakan sistem tanam jajar legowo yang tepat, pemupukan yang tepat dan pemberian pupuk organik,” tutup Azrai.[TIM]