Ekonomi

Kementan Buktikan Pertanian Keren dengan Komoditas HVC yang Ramah Lingkungan

Selain padi, salah satu komoditas tanaman bernilai tinggi atau High Value Crop (HVC)  adalah bawang merah


Kementan Buktikan Pertanian Keren dengan Komoditas HVC yang Ramah Lingkungan
Ilustrasi bawang merah (ISTIMEWA )

AKURAT.CO Kebutuhan pangan nasional menjadi tanggung jawab pertanian, dalam hal ini tentu saja Kementerian Pertanian. Karena sektor pertanian sangat vital Kementan pun berupaya dengan berbagai kebijakan dan program  untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian. 

Salah satu diantaranya dengan menaman komoditas bernilai tinggi atau High Value Crop (HVC) yang sedang saat ini sedang digencarkan oleh  Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Selain padi, salah satu komoditas tanaman bernilai tinggi atau High Value Crop (HVC)  adalah bawang merah. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo atau biasa disapa SYL mengatakan bahwa dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan maka keberadaan para petani menjadi sangat vital. 

”Untuk menerapkan teknologi-teknologi yang direkomendasikan, maka pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Kementan harus bisa membuat petani menjadi unggul, profesional dan punya daya saing", ujar Mentan.

Mentanpun pun meminta kepada pemangku kepentingan terkait untuk melaksanakan pelatihan bagi petani-petani pada November nanti. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mendukung penuh arahan Mentan. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian ialah kapasitas sumber daya manusianya.

Maka, para pemangku kepentingan di bidang pertanian harus memiliki kemauan dan semangat yang kuat dalam menjaga dan mengawal ketersediaan pangan tanpa terkecuali SIMURP. 

Melalui Climate Smart Agriculture (CSA), SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani, karena tujuan utama CSA adalah meningkatkan produktivitas dengan inovasi teknologi yang ramah lingkungan.

"Kunci keberhasilan pembangunan pertanian harus dimulai dari keberhasilan petani dan penyuluhnya. Makanya hal utama ya g harus diupgrade adalah kapasitas, keterampilan dan pengalaman mereka didalam mengimplementasikan CSA. Di sini BPPSDMP berada di garis terdepan dalam pembangunan SDM pertanian," tegas Dedi.

Sementara itu guna mendorong pengembangan komoditi bernilai ekonomi khususnya di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan pada 19 s.d 21 Oktober 2021 telah dilaksanakan Studi Banding HVC SIMURP di Kabupaten Enrekang. 

Kepala Seksi Penyuluhan Pertanian UPT PSDMP, Hartati menyampaikan bahwa lokasi studi banding HVC di Kabupaten Enrekang karena kawasan kabupaten itu merupakan segitiga bermuda komoditas bawang dan sentra produksi bawang di Sulawesi Selatan. 

"Yang unik dan istimewa, bawang merah di Enrekang menerapkan teknologi yaitu menggunakan lampu sebagai pengusir ngengat sehingga ramah lingkungan dan hemat biaya produksi," ujar Hartati.

Sementara Koordinator BPP Anggeraja, Hasbi menjelaskan jika  Kecamatan Anggeraja merupakan salah satu kecamatan dari 12 kecamatan di kabupaten Enrekang  sebagai sentra penghasil bawang merah di Sulawesi Selatan. Dengan potensi pertanaman bawang merah sekitar 3.416 Ha atau 80% dari total potensi di Kabupaten Enrekang dan tersebar di 15 desa yang ada di Kecamatan Anggeraja.

Hasbi menambahkan bahwa yang menjadi primadona adalah jenis varietas jenis tajuk, maja, mentes, katumi dan super Philips. Sedangkan untuk mengendalikan OPT maka dilakukan dengan rotasi tanaman untuk memutus daur hidup hama. 

"Dengan menggunakan pola tanam bawang merah, bawang merah dan jagung atau jagung pakan ternak dan jagung manis. Cara ini sangat ampuh untuk memutus siklus hama," jelasnya. 

Ciri khas dalam proses pertanaman bawang merang yakni dengan pemasangan lampu perangkap. Berdasarkan pengalaman petani dan hasil penelitian dari Balitsa bahwa lampu perangkap (Light Trap) yang berwarna ungu adalah lampu yang menjadi penarik ngengat yang terbang pada malam hari. 

"Kemudian lampu yang terang  atau berwarna kuning untuk mengusir serangganya," terang Hasbi.

Panen yang dilakukan dengan sistem gotong royong dan hasil panen disimpan di tenda-tenda yang berwarna orange. Rata-rata satu tenda berisi 900 kg s/d 1.000 kg bawang merah kering. Jika ditotal produksi rata-rata bawang merah Kabupaten Enrekang 10 ton/Ha nya.

"Sedangkan untuk penyemprotan insektisida dilakukan jika kerusakan telah mencapai 5% dengan tetap memperhatikan unsur-unsur 6 T, Tepat sasaran, Tepat mutu, Tepat jenis pestisida, Tepat waktu, Tepat dosis dan Tepat cara penggunaan pestisida," tutup Hasbi.[TIM]