Ekonomi

Kementan Beri Dukungan ke Petani Milenial untuk Jaga Ketahanan Pangan

Partisipasi milenial dalam kegiatan usaha pertanian sangat diperlukan


Kementan Beri Dukungan ke Petani Milenial untuk Jaga Ketahanan Pangan
Webinar Nasional Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo (DOKUMEN)

AKURAT.CO Pertanian tumbuh positif di masa pandemi. Hal tersebut menjadi peluang yang baik untuk mengembangkan usaha dibidang pertanian. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian memberikan dukungan kepada petani milenial agar bisa memaksimalkan sektor ini.

Pasalnya, partisipasi milenial dalam kegiatan usaha pertanian sangat diperlukan. Hal ini terus didukung Kementerian Pertanian dengan hadirnya petani milenial yang berdaya saing dan berkualitas. 

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi ujung tombak ketahanan pangan.

“Petani milenial harus menjadi gerda terdepan untuk membangun pertanian nasional," tuturnya. 

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi.

"Salah satu kunci sukses peningkatan produktivitas pertanian Indonesia adalah hadirnya peran serta petani milenial," katanya. 

Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dengan melaksanakan Webinar Nasional secara luring dan daring, Rabu (20/10/2021), di Gedung B Fakultas Pertanian UNS, dan dibuka Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Samanhudi. 

Dalam sambutannya, Samanhudi menyampaikan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam rangka menumbuhkan minat generasi milenial bekerja dan berusaha di sektor pertanian.

“Ada keinginan untuk membangun kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi maupun dengan dunia industri dalam menumbuhkembangkan petani milenial,” ujar Samanhudi.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin selaku Narasumber acara tersebut juga menyampaikan bahwa faktor SDM pertanian baik petani, penyuluh dan peneliti sangat penting perannya dalam mendukung peningkatan produksi dan produktivitas pangan selain teknologi budidaya dan sarana prasarana pertanian. 

“Semua itu tidak dapat dilakukan apabila tidak didukung oleh SDM pertanian yang professional, berdaya saing dan berjiwa wirausaha. Dan salah satu sdm pertanian tersebut adalah petani milenial,” ujarnya. 

Bustanul menambahkan jika Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP selama ini telah melakukan upaya pemberdayaan petani milenial melalui pelatihan, program magang dan juga pengukuhan Duta Petani Milenial sebagai pelopor dan penggerak bagi generasi muda agar tertarik untuk berprofesi menjadi petani.

Narasumber lainnya Wulan Purnamasari yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Sragen menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 dapat menyababkan kerawanan pangan. 

Dalam hal ini, SDM pertanian juga tidak luput dari Covid-19 karena 61% petani berusia lebih dari 45 tahun. Oleh karena itu bagaimana caranya menarik minat petani milenial agar mau berperan di bidang pertanian. Generasi milenial ini merupakan generasi usia produktif terbesar di Indonesia.

Banyak anak muda yang berpendapat bahwa bekerja di sektor pertanian itu kotor, miskin, dan tidak keren. Ini menjadi tugas kita bersama bagaimana mangubah pola pikir milenial agar mau menjadi petani meneruskan pembangunan sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi, ujarnya.

Wulan menegaskan kembali jika peran anggota DPRD dalam hal ini merumuskan Peraturan Daerah yang bertujuan meningkatkan peran petani milenial dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan.

Menurut Dosen Penyuluhan Pertanian pada Fakultas Pertanian UNS, Dr. Agung Wibowo, ada lima pilar penyuluhan pertanian yang mampu mendukung memberdayakan petani milenial. 

Lima pilar itu adalah keilmuan dan kapasitas penyuluh pertanian, kelembagaan penyuluhan pertanian, peranan pemerintah, regulasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian, dan keberadaan organisasi profesi.

“Kunci keberhasilan selanjutnya adalah kolaborasi dengan swasta dan perguruan tinggi, swasta dan pemerintah, serta perguruan tinggi dan pemerintah dalam menumbuhkan petani milenial,” ujar Agung.

Webinar juga dihadiri secara virtual oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin yang menyampaikan tentang strategi untuk meningkatkan pendapatan petani tidak hanya meningkatkan produksi. Kabupaten Trenggalek konsepnya sederhana tidak hanya menyediakan stok pangan, tetapi petaninya juga harus sejahtera. 

“Percuma saja jika produksi naik tetapi pendapatan petani tidak ada kenaikan,” tegasnya.

Strategi yang dilakukannya adalah menekan biaya input produksi terutama pupuk dan pengairan. Untuk itu penggunaan pupuk organik digalakkan di Kabupaten Trenggalek dan disitulah peran petani milenial. Dengan kemampuan dan pengetahuannya petani milenial menyediakan pupuk organik. 

"Sedangkan untuk lahan yang tidak tersedia air petani milenial memanfaatkan teknologi solar sel untuk menggerakkan pompa sehingga mengurai biaya bahan bakar jika menggunakan mesin diesel," tutupnya.[TIM]