Ekonomi

Kementan atau Kemendag, Siapa Benar Soal Polemik Jagung?

Permasalah ini sempat mendapat atensi dari Presiden Joko Widodo


Kementan atau Kemendag, Siapa Benar Soal Polemik Jagung?
Petani mengupas tongkol jagung sebelum dipanen di Desa Joresan, Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (12/11). Menurut petani di wilayah tersebut, sebagian besar petani terpaksa menjual jagung dalam kondisi basah seharga Rp2.800 per kilogram atau Rp900 lebih rendah dibandingkan harga kering Rp3.700 per kilogram, karena banyak petani tak bisa menjemur hasil panen karena terkendala cuaca yang sering mendung dan hujan. (ANTARA FOTO/Siswowidodo/aww/17)

AKURAT.CO  Persoalan data antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian kembali lagi mencuat. Kali ini disebabkan karena harga jagung untuk pakan ternak menjadi permasalahan utama bagi ternak.

Permasalah ini sempat mendapat atensi dari Presiden Joko Widodo saat kunjungannya di Blitar, Jawa Timur. Ketika itu  sorang peternak membentangkan poster keluhan soal nasib peternak.

Kementan bilang stok jagung masih aman

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi mengklaim harga jagung untuk pakan ternak tinggi karena terjadi disparitas harga antara Harga Acuan Pembelian (HAP) dari Kementerian Perdagangan dengan harga yang ada di pasaran.

"Ketersediaan sebenarnya sustain, stabil, dan ada. Cuma bagaimana membuat kondisi bahan pokok sampai ke peternak secara masif dan tak ada pelanggaran di lapangan," kata Harvick dalam rapat kerja bersama dengan Komisi IV DPR RI, Senin (20/9/2021).

Ia mengatakan permasalahan utama harga pakan jagung yang tinggi adalah sinkronisasi antara pengusaha pakan besar dan kecil terhadap peternak rakyat.

Di waktu yang sama, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi menerangkan saat ini stok jagung terbilang masih dalam kondisi aman. 

"Di GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) itu 722 ribu ton, kemudian ada di pengepul 744 ribu ton, di agen 423 ribu ton, usaha lain dan eceran kemudian di rumah tangga dan lainnya itu sisanya, jadi total sekitar 2,3 juta ton," kata dia.

Suwandi menjelaskan saat ini terjadi disparitas harga yang cukup tinggi antara HAP yang diterbitkan Kementerian Perdagangan yaitu sebesar Rp 4.500 per kg dengan harga di pasaran sekitar Rp 5.500 - Rp 6.000 per kg.