Ekonomi

Kemenperin Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Tekstil Impor Pakai Cara Ini

Kemenperin Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Tekstil Impor Pakai Cara Ini
Ekshibisi mesin tekstil dalam pameran industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) terintegrasi bertaraf Internasional 'Indo Intertex dan Inatex' yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4). Pameran yang menghadirkan 900 perusahaan dari perusahaan lokal dan 23 mancanegara yang bergerak dalam industri tekstil dan garmen. Pameran yang saling terkait yakni Indo Intertex yang menghadirkan permesinan dan peralatan, sedangkan Inatex memamerkan aneka bahan baku serat, benang, kain, paka (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu peningkatan daya saing industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional, salah satuya dengan berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku tekstil impor.

Langkah yang dilakukan antara lain dengan mendorong pengembangan bahan baku tekstil yang berbasis serat sintetis.

“Bahan baku tekstil berbasis serat sintetis punya banyak keunggulan, antara lain memiliki durabilitas tinggi serta dapat direkayasa dengan menanamkan sifat dan fungsi khusus yang menunjang performa produk tekstil. Sifat ini dapat dikatakan abadi karena ditanamkan langsung pada bahan baku serat sintetis tersebut,” ujar Plt Kepala Balai Besar Tekstil (BBT) Kemenperin Wibowo Dwi Hartoto lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat (19/3/2021).

baca juga:

Ia menuturkan sebagai upaya mendampingi para pelaku industri TPT dalam mengembangkan material tekstil berbasis serat sintetis, BBT Kemenperin menyediakan fasilitas berupa testbed ekonomis.

“Fasilitas testbed pengembangan tekstil fungsional dilengkapi melt spinning skala laboratorium dengan teknologi terbaru. Fasilitas tersebut memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai jenis polimer menjadi benang filamen,” jelasnya.

Fasilitas test-bed tersebut memungkinkan industri melakukan pengembangan produk secara ekonomis, karena hanya membutuhkan sedikit bahan baku, mulai dari 0,5kg hingga 2 kg untuk bereksperimen yang akan menghasilkan formula berbagai varian benang filamen, baik untuk kebutuhan sandang atau functional apparel maupun technical textile.

Selain itu pengembangan produk functional apparel didukung melalui kemampuan color matching dan penyematan fungsi khusus pada serat seperti anti bakteri, anti api, atau pembuatan benang yang menunjang faktor kenyamanan seperti pengatur suhu (thermo-regulator), quick dry, anti kusut, dan sebagainya.

“Sedangkan untuk technical textile, potensi produk tekstil sebagai bahan baku material bagi sektor-sektor lain seperti bidang penerbangan, kesehatan (biomedis), otomotif, pertanian, konstruksi, dan sebagainya,” lanjutnya. 

Kepala BBT Kemenperin optimis, fasilitas testbed untuk pengembangan tekstil fungsional, akan turut mendorong upaya kemandirian bahan baku tekstil nasional, karena sudah didukung oleh ekosistem industri TPT di sektor hulu.

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu